Kitab 1 · Bab 75
Memaafkan dan Menjauhi Orang-Orang Bodoh
✦ 10 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ خذ العفو، وأمر بالعرف، وأعرض عن الجاهلين ﴾ .سورة الأعراف(199)
Terjemahan
Allah berfirman: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga prinsip dasar dalam bermuamalah: pertama, bersikap pemaaf dan lapang dada terhadap kesalahan orang. Kedua, tetap aktif menyeru kepada kebaikan dan kebenaran. Ketiga, menghindari perdebatan dan interaksi negatif dengan orang-orang yang keras kepala dan bodoh yang tidak mau menerima nasihat. Ketiganya adalah panduan untuk menjaga ketenangan jiwa dan efektivitas dakwah.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga prinsip dasar dalam bermuamalah: pertama, bersikap pemaaf dan lapang dada terhadap kesalahan orang. Kedua, tetap aktif menyeru kepada kebaikan dan kebenaran. Ketiga, menghindari perdebatan dan interaksi negatif dengan orang-orang yang keras kepala dan bodoh yang tidak mau menerima nasihat. Ketiganya adalah panduan untuk menjaga ketenangan jiwa dan efektivitas dakwah.
# 2
وقال تعالى: ﴿ فاصفح الصفح الجميل ﴾ .سورة الحجر(85)
Terjemahan
Allah berfirman: "Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka." (QS. Al-Hijr: 85)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan sikap memaafkan yang sempurna dan mulia (ash-shafhal-jamîl). Memaafkan dengan cara yang baik berarti melakukannya dengan lapang dada, tanpa rasa benci, tanpa menyakiti, dan tanpa mengungkit-ungkit kesalahan lagi. Hikmahnya adalah membersihkan hati dari dendam, mendatangkan ketenangan jiwa, serta meneladani sifat Allah Yang Maha Pemaaf.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan sikap memaafkan yang sempurna dan mulia (ash-shafhal-jamîl). Memaafkan dengan cara yang baik berarti melakukannya dengan lapang dada, tanpa rasa benci, tanpa menyakiti, dan tanpa mengungkit-ungkit kesalahan lagi. Hikmahnya adalah membersihkan hati dari dendam, mendatangkan ketenangan jiwa, serta meneladani sifat Allah Yang Maha Pemaaf.
# 3
وقال تعالى: ﴿ وليعفوا وليصفحوا، ألا تحبون أن يغفر اللَّه لكم؟ ﴾ .سورة النور(22)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan maafkanlah mereka, dan berilah ampun kepada mereka. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan pentingnya memaafkan dan memberi ampun kepada orang lain sebagai cerminan keimanan. Allah mengaitkan langsung sifat pemaaf kita dengan ampunan-Nya, menjadikannya sebab turunnya rahmat. Dengan demikian, mengampuni sesama bukanlah kelemahan, tetapi jalan untuk meraih pengampunan Ilahi.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan pentingnya memaafkan dan memberi ampun kepada orang lain sebagai cerminan keimanan. Allah mengaitkan langsung sifat pemaaf kita dengan ampunan-Nya, menjadikannya sebab turunnya rahmat. Dengan demikian, mengampuni sesama bukanlah kelemahan, tetapi jalan untuk meraih pengampunan Ilahi.
# 4
وقال تعالى: ﴿ والعافين عن الناس، والله يحب المحسنين ﴾ .سورة أل عمران(134)
Terjemahan
Allah berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga sifat mulia yang berurutan: kedermawanan, menahan amarah, dan memaafkan. Puncaknya adalah memaafkan kesalahan orang lain, yang merupakan bentuk ihsan (kebaikan tertinggi). Dengan menyifati pelakunya sebagai "muhsinin" (orang-orang yang berbuat ihsan), Allah menegaskan bahwa memaafkan adalah perbuatan yang dicintai-Nya dan merupakan keutamaan akhlak yang sangat agung.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan tiga sifat mulia yang berurutan: kedermawanan, menahan amarah, dan memaafkan. Puncaknya adalah memaafkan kesalahan orang lain, yang merupakan bentuk ihsan (kebaikan tertinggi). Dengan menyifati pelakunya sebagai "muhsinin" (orang-orang yang berbuat ihsan), Allah menegaskan bahwa memaafkan adalah perbuatan yang dicintai-Nya dan merupakan keutamaan akhlak yang sangat agung.
# 5
وقال تعالى: ﴿ ولمن صبر وغفر، إن ذلك من عزم الأمور ﴾سورة الشورى(43)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan sungguh, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Asy-Syura: 43)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran dan pemaafan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan hati dan keteguhan jiwa. Perbuatan mulia ini memerlukan tekad yang kuat dan termasuk perkara penting yang diperintahkan Allah. Dengan mengamalkannya, seorang hamba akan meraih kemuliaan di dunia dan pahala besar di akhirat.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran dan pemaafan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan hati dan keteguhan jiwa. Perbuatan mulia ini memerlukan tekad yang kuat dan termasuk perkara penting yang diperintahkan Allah. Dengan mengamalkannya, seorang hamba akan meraih kemuliaan di dunia dan pahala besar di akhirat.
# 6
وعن عائشة رضي اللَّه عنها أَنها قالت للنبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : هل أَتى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشدَّ مِنْ يوم أُحُدٍ ؟ قال : « لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَومِكِ ، وكَان أَشدُّ ما لَقِيتُ مِنْهُمْ يوْم العقَبَةِ ، إِذْ عرَضتُْ نَفسِي على ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ ابنِ عبْدِ كُلال ، فلَمْ يُجبنِى إِلى ما أَردْتُ ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ على وَجْهِي ، فلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ وَأَنا بقرنِ الثَّعالِبِ ، فَرفَعْتُ رأْسِي ، فَإِذا أَنَا بِسحابَةٍ قَد أَظلَّتني ، فنَظَرتُ فَإِذا فِيها جِبريلُ عليه السلام ، فنَاداني فقال : إِنَّ اللَّه تعالى قَد سَمِع قَولَ قومِك لَكَ، وَما رَدُّوا عَلَيكَ ، وَقد بعثَ إِلَيك ملَكَ الجبالِ لِتأْمُرهُ بما شِئْتَ فِيهم فَنَادَانِي ملَكُ الجِبَالِ ، فَسلَّمَ عَليَّ ثُمَّ قال : يا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّه قَد سمعَ قَولَ قَومِكَ لَكَ ، وأَنَا مَلَكُ الجِبالِ ، وقَدْ بَعَثَني رَبِّي إِلَيْكَ لِتأْمُرَني بِأَمْرِكَ ، فَمَا شئتَ : إِنْ شئْتَ : أَطْبَقْتُ عَلَيهمُ الأَخْشَبَيْن » فقال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « بلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّه مِنْ أَصْلابِهِم منْ يعْبُدُ اللَّه وَحْدَهُ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً » متفقٌ عليه .
« الأَخْشبان » : الجبلان المُحِيطَان بمكَّة .. والأَخْشَبُ : هو الجبل الغليظ .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Apakah engkau pernah mengalami hari yang lebih berat daripada hari Perang Uhud?" Beliau menjawab: "Aku telah banyak mengalami (kesulitan) dari kaummu (orang-orang kafir Quraisy). Dan hari yang paling berat yang kualami dari mereka adalah hari 'Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu 'Abd Yalil bin 'Abd Kulal (agar ia masuk Islam), tetapi ia tidak menjawab seperti yang kuharapkan. Maka aku pun pergi dengan perasaan sedih yang sangat. Aku tidak sadarkan diri kecuali ketika aku telah sampai di Qarnuts Tsa'alib. Aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba ada awan yang menaungiku. Aku melihat di dalamnya ada Malaikat Jibril. Ia memanggilku dan berkata: 'Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan apa yang mereka tolak darimu. Dan Allah telah mengutus Malaikat Penjaga Gunung kepadamu, untuk engkau perintah sesuai keinginanmu terhadap mereka.' Kemudian Malaikat Penjaga Gunung memberiku salam dan berkata: 'Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu. Aku adalah Malaikat Penjaga Gunung. Tuhanku telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintah sesukamu. Jika engkau mau, aku akan timpakan dua gunung ini kepada mereka.' Namun Nabi ﷺ bersabda: 'Tidak, justru aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan kesabaran dan kasih sayang Nabi ﷺ yang luar biasa. Meski disakiti dan direndahkan, beliau justru memilih untuk mendoakan kebaikan dan hidayah bagi kaumnya, bukan membalas dengan azab.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang ketabahan dan kesabaran Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi penolakan dakwah yang sangat menyakitkan. Beliau menganggap penderitaan batin karena ditolak oleh para pemuka kabilah lebih berat daripada luka fisik di Perang Uhud. Kisah ini juga menunjukkan bahwa di saat manusia menolak, Allah selalu menghibur dan mendukung hamba-Nya, sebagaimana ditunjukkan dengan kehadiran malaikat Jibril.
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan kesabaran dan kasih sayang Nabi ﷺ yang luar biasa. Meski disakiti dan direndahkan, beliau justru memilih untuk mendoakan kebaikan dan hidayah bagi kaumnya, bukan membalas dengan azab.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang ketabahan dan kesabaran Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi penolakan dakwah yang sangat menyakitkan. Beliau menganggap penderitaan batin karena ditolak oleh para pemuka kabilah lebih berat daripada luka fisik di Perang Uhud. Kisah ini juga menunjukkan bahwa di saat manusia menolak, Allah selalu menghibur dan mendukung hamba-Nya, sebagaimana ditunjukkan dengan kehadiran malaikat Jibril.
# 7
وعنها قالت : ما ضرَبَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم شَيْئاً قَطُّ بِيَدِهِ ، ولا امْرأَةً ولا خادِماً، إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدَ في سَبِيل اللَّهِ ، وما نِيل منْهُ شيء قَطُّ فَيَنتَقِم مِنْ صاحِبِهِ إِلاَّ أَنْ يُنتَهَكَ شَيء مِن مَحَارِمِ اللَّهِ تعالى : فَيَنْتَقِمَ للَّهِ تعالى . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali. Beliau tidak pernah memukul istri atau pelayannya, kecuali berjihad di jalan Allah. Dan beliau tidak pernah disakiti oleh suatu perbuatan lalu membalas pelakunya, kecuali jika larangan Allah dilanggar, maka beliau menghukumnya karena Allah. (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menegaskan bahwa Nabi ﷺ adalah pribadi yang sangat penyantun dan tidak kasar, terutama terhadap keluarga dan bawahannya. Beliau hanya tegas ketika hukum Allah dilanggar.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak mulia Rasulullah ﷺ yang sangat lembut dan pemaaf dalam interaksi personal. Beliau tidak pernah membalas dendam atas sakit hati pribadi. Kemarahan dan tindakan tegas beliau hanya muncul ketika hukum-hukum Allah dilanggar, menunjukkan komitmen tertinggi pada prinsip ketuhanan, bukan pada kepentingan diri.
Penjelasan singkat: Hadits ini menegaskan bahwa Nabi ﷺ adalah pribadi yang sangat penyantun dan tidak kasar, terutama terhadap keluarga dan bawahannya. Beliau hanya tegas ketika hukum Allah dilanggar.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak mulia Rasulullah ﷺ yang sangat lembut dan pemaaf dalam interaksi personal. Beliau tidak pernah membalas dendam atas sakit hati pribadi. Kemarahan dan tindakan tegas beliau hanya muncul ketika hukum-hukum Allah dilanggar, menunjukkan komitmen tertinggi pada prinsip ketuhanan, bukan pada kepentingan diri.
# 8
وعن أَنس رضي اللَّه عنه قال : كُنتُ أَمْشِي مَعَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وعليه بُردٌ نَجْرَانيٌّ غلِيظُ الحَاشِيةِ ، فأَدركَهُ أَعْرَابيٌّ ، فَجبذهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَة شَديدَةً ، فَنظرتُ إلى صفحة عاتِقِ النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وقَد أَثَّرَت بِها حَاشِيةُ الرِّداءِ مِنْ شِدَّةِ جَبذَتِهِ ، ثُمَّ قال : يَا مُحَمَّدُ مُرْ لي مِن مالِ اللَّهِ الذي عِندَكَ . فالتَفَتَ إِلَيْه ، فضحِكَ ، ثُمَّ أَمر لَهُ بعَطَاءٍ . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau mengenakan jubah tebal dari Najran yang berpinggiran kasar. Tiba-tiba seorang badui datang dari belakang lalu menarik jubah beliau dengan keras. Aku (Anas) melihat leher beliau terdapat bekas pinggiran jubah karena tarikan orang itu. Kemudian orang itu berkata: "Wahai Muhammad, perintahkan agar diberikan kepadaku sebagian harta Allah yang ada padamu." Beliau menoleh kepada orang itu, lalu tersenyum dan memerintahkan agar orang itu diberi harta. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan kesabaran dan kedermawanan Nabi ﷺ. Meski ditarik dengan kasar, beliau malah tersenyum dan memenuhi permintaan orang tersebut.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang sangat mulia. Beliau diperlakukan kasar oleh seorang badui yang menarik jubahnya dengan keras hingga meninggalkan bekas, namun beliau tidak marah. Justru, beliau menanggapi dengan senyuman dan memenuhi permintaan orang tersebut. Pelajaran utamanya adalah keutamaan bersikap sabar, lemah lembut, dan dermawan bahkan kepada orang yang berbuat kasar kepada kita.
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan kesabaran dan kedermawanan Nabi ﷺ. Meski ditarik dengan kasar, beliau malah tersenyum dan memenuhi permintaan orang tersebut.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang sangat mulia. Beliau diperlakukan kasar oleh seorang badui yang menarik jubahnya dengan keras hingga meninggalkan bekas, namun beliau tidak marah. Justru, beliau menanggapi dengan senyuman dan memenuhi permintaan orang tersebut. Pelajaran utamanya adalah keutamaan bersikap sabar, lemah lembut, dan dermawan bahkan kepada orang yang berbuat kasar kepada kita.
# 9
وعن ابن مسعود رضي اللَّه عنه قال : كأَنِّي أَنظُرُ إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يحْكِي نَبِيّاً مِن الأَنبياءِ ، صلوَاتُ اللَّهِ وَسلامُه عَلَيهم ، ضَرَبَهُ قَومُهُ فَأَدموهُ ، وَهُوَ يَمسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجهِهِ ، ويقول : « اللَّهُمَّ اغفِرِ لِقَومي فَإِنَّهُم لا يَعْلَمُونَ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seolah-olah aku melihat Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang nabi di antara para nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, lalu ia mengusap darah dari wajahnya sambil berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mengisahkan keteladanan para nabi yang memiliki hati pemaaf, mendoakan kebaikan bagi kaumnya yang menyakiti mereka karena kebodohan mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap sabar dan kasih sayang tingkat tertinggi. Meski disakiti, seorang nabi justru memohonkan ampunan untuk kaumnya karena ketidaktahuan mereka. Hikmahnya adalah meneladani sifat pemaaf, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, serta memiliki kepedulian untuk membimbing orang lain meskipun mereka berbuat zalim.
Penjelasan singkat: Hadits ini mengisahkan keteladanan para nabi yang memiliki hati pemaaf, mendoakan kebaikan bagi kaumnya yang menyakiti mereka karena kebodohan mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sikap sabar dan kasih sayang tingkat tertinggi. Meski disakiti, seorang nabi justru memohonkan ampunan untuk kaumnya karena ketidaktahuan mereka. Hikmahnya adalah meneladani sifat pemaaf, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, serta memiliki kepedulian untuk membimbing orang lain meskipun mereka berbuat zalim.
# 10
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لَيس الشَّديدُ بِالصُّرعَةِ ، إِنَّما الشديدُ الذي يَملِكُ نفسهُ عِند الغضبِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mendefinisikan kekuatan sejati bukan terletak pada fisik, tetapi pada kemampuan menguasai diri dan emosi, terutama saat marah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa hakikat kekuatan (quwwah) yang sesungguhnya bukanlah kekuatan fisik atau kemampuan mengalahkan orang lain. Kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan spiritual dan mental untuk menguasai hawa nafsu, khususnya dalam meredam dan mengendalikan emosi amarah. Dengan demikian, orang yang kuat adalah yang mampu menjaga akhlak dan tindakannya meski dalam kondisi emosi yang memuncak, sehingga terhindar dari penyesalan dan kerusakan.
Penjelasan singkat: Hadits ini mendefinisikan kekuatan sejati bukan terletak pada fisik, tetapi pada kemampuan menguasai diri dan emosi, terutama saat marah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa hakikat kekuatan (quwwah) yang sesungguhnya bukanlah kekuatan fisik atau kemampuan mengalahkan orang lain. Kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan spiritual dan mental untuk menguasai hawa nafsu, khususnya dalam meredam dan mengendalikan emosi amarah. Dengan demikian, orang yang kuat adalah yang mampu menjaga akhlak dan tindakannya meski dalam kondisi emosi yang memuncak, sehingga terhindar dari penyesalan dan kerusakan.