Kitab 1 · Bab 78
Perintah untuk Bersikap Lembut kepada Bawahan, Mendidik Mereka, Menyayangi Mereka, serta Larangan Menipu, Menekan, Mengabaikan Kebaikan, Meninggalkan, dan Tidak Memperhatikan Kebutuhan Mereka
✦ 8 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين ﴾ .سورة الشعراء(215)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu." (Asy-Syu'ara': 215)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan pemimpin dan orang yang memiliki kedudukan untuk bersikap tawadhu' (rendah hati) dan lemah lembut kepada pengikutnya dari kalangan orang beriman. Perintah "merendahkan sayap" adalah metafora untuk menunjukkan sikap kasih sayang, kemudahan, dan tidak sombong. Hikmahnya, kepemimpinan yang penuh kerendahan hati akan melahirkan ketaatan dan kecintaan yang tulus, serta memperkuat persatuan umat.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan pemimpin dan orang yang memiliki kedudukan untuk bersikap tawadhu' (rendah hati) dan lemah lembut kepada pengikutnya dari kalangan orang beriman. Perintah "merendahkan sayap" adalah metafora untuk menunjukkan sikap kasih sayang, kemudahan, dan tidak sombong. Hikmahnya, kepemimpinan yang penuh kerendahan hati akan melahirkan ketaatan dan kecintaan yang tulus, serta memperkuat persatuan umat.
# 2
وقال تعالى: ﴿ إن اللَّه يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون ﴾ .سورة النحل(90)
Terjemahan
Allah telah berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (An-Nahl: 90)
Penjelasan singkat: Ayat ini merupakan inti ajaran Islam yang mencakup seluruh kebaikan dan kejahatan. Allah memerintahkan tiga fondasi kebaikan: adil dalam semua hal, berbuat ihsan (lebih dari adil), dan menyambung silaturahmi. Sebaliknya, Allah melarang tiga landasan kejahatan: kekejian (seperti zina), kemungkaran (semua maksiat), dan permusuhan. Ayat ini adalah nasihat lengkap agar manusia senantiasa ingat dan mengambil pelajaran.
Penjelasan singkat: Ayat ini merupakan inti ajaran Islam yang mencakup seluruh kebaikan dan kejahatan. Allah memerintahkan tiga fondasi kebaikan: adil dalam semua hal, berbuat ihsan (lebih dari adil), dan menyambung silaturahmi. Sebaliknya, Allah melarang tiga landasan kejahatan: kekejian (seperti zina), kemungkaran (semua maksiat), dan permusuhan. Ayat ini adalah nasihat lengkap agar manusia senantiasa ingat dan mengambil pelajaran.
# 3
وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قال : سمِعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « كُلُّكُم راعٍ ، وكُلُّكُمْ مسؤولٌ عنْ رعِيتِهِ : الإمامُ راعٍ ومَسْؤُولٌ عَنْ رعِيَّتِهِ ، والرَّجُلُ رَاعٍ في أهلِهِ وَمسؤولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالمَرأَةُ راعيةٌ في بيتِ زَوجها وَمسؤولةًّ عَنْ رعِيَّتِها ، والخَادِمُ رَاعٍ في مال سَيِّدِهِ وَمَسؤُولٌ عَنْ رَعِيتِهِ ، وكُلُّكُم راع ومسؤُولٌ عَنْ رعِيَّتِهِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin (penguasa) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip universal tanggung jawab dan kepemimpinan (ri'ayah). Setiap orang, sesuai posisinya, adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Hikmahnya adalah menanamkan kesadaran untuk amanah, adil, dan menjaga hak-hak orang yang berada di bawah wewenang kita, mulai dari lingkup negara hingga rumah tangga.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip universal tanggung jawab dan kepemimpinan (ri'ayah). Setiap orang, sesuai posisinya, adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Hikmahnya adalah menanamkan kesadaran untuk amanah, adil, dan menjaga hak-hak orang yang berada di bawah wewenang kita, mulai dari lingkup negara hingga rumah tangga.
# 4
وعن أبي يَعْلى مَعْقِل بن يَسَارٍ رضي اللَّه عنه قال : سمعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « ما مِن عبدٍ يسترعِيهِ اللَّه رعيَّةً ، يَمُوتُ يومَ يَموتُ وهُوَ غَاشٌ لِرَعِيَّتِهِ ، إلاَّ حَرَّمَ اللَّه علَيهِ الجَنَّةَ » متفقٌ عليه .
وفي روايةٍ : « فَلَم يَحُطهَا بِنُصْحهِ لم يجِد رَائحَةَ الجَنَّة » .
وفي روايةٍ لمسـلم : « ما مِن أَمِيرٍ يَلِي أُمورَ المُسلِمينَ ، ثُمَّ لا يَجهَدُ لَهُم ، ويَنْصحُ لهُم، إلاَّ لَم يَدخُل مَعَهُمُ الجَنَّةَ » .
Terjemahan
Dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap orang yang diberi wewenang oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu dia mati pada hari kematiannya dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah akan mengharamkan surga baginya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain: "Jika dia tidak menjaga mereka dengan amanah, dia tidak akan mencium aroma surga."
Dalam riwayat Muslim lainnya: "Setiap pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin, lalu dia tidak bersungguh-sungguh untuk mereka dan tidak memberi nasihat kepada mereka, maka dia tidak akan masuk surga bersama mereka."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tanggung jawab besar seorang pemimpin. Intinya, kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kejujuran dan pengabdian penuh untuk kesejahteraan rakyat. Ancaman keras, yaitu terhalang dari surga, diberikan kepada pemimpin yang berkhianat, lalai, atau tidak tulus dalam menunaikan tugasnya.
Dalam riwayat lain: "Jika dia tidak menjaga mereka dengan amanah, dia tidak akan mencium aroma surga."
Dalam riwayat Muslim lainnya: "Setiap pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin, lalu dia tidak bersungguh-sungguh untuk mereka dan tidak memberi nasihat kepada mereka, maka dia tidak akan masuk surga bersama mereka."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tanggung jawab besar seorang pemimpin. Intinya, kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kejujuran dan pengabdian penuh untuk kesejahteraan rakyat. Ancaman keras, yaitu terhalang dari surga, diberikan kepada pemimpin yang berkhianat, lalai, atau tidak tulus dalam menunaikan tugasnya.
# 5
وعن عائشة رضي الله عنها قالت : سمعت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول في بيتي هذا : « اللهم من وَلي من أمر أُمتي شيئاً فشق عليهم فاشقق عليه ، ومن وَلِيَ من أمر أمتي شيئاً فرفق بهم فارفق به » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di rumahku: "Ya Allah! Siapa saja yang mengurusi suatu urusan dari urusan umatku, lalu dia menyulitkan mereka, maka sulitkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi suatu urusan dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikap lembutlah kepadanya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip keadilan dan tanggung jawab bagi setiap pemimpin atau pengelola urusan umat. Intinya, balasan yang diberikan Allah akan setara dengan perbuatan pemimpin tersebut. Siapa yang mempersulit rakyat, maka Allah akan mempersulit kehidupannya. Sebaliknya, siapa yang bersikap lembut dan memudahkan urusan mereka, maka Allah juga akan melimpahkan kemudahan dan kelembutan kepadanya. Hadis ini menjadi pengingat agar setiap pemegang amanah senantiasa mengutamakan kemaslahatan dan kebaikan bagi orang yang dipimpinnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip keadilan dan tanggung jawab bagi setiap pemimpin atau pengelola urusan umat. Intinya, balasan yang diberikan Allah akan setara dengan perbuatan pemimpin tersebut. Siapa yang mempersulit rakyat, maka Allah akan mempersulit kehidupannya. Sebaliknya, siapa yang bersikap lembut dan memudahkan urusan mereka, maka Allah juga akan melimpahkan kemudahan dan kelembutan kepadanya. Hadis ini menjadi pengingat agar setiap pemegang amanah senantiasa mengutamakan kemaslahatan dan kebaikan bagi orang yang dipimpinnya.
# 6
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « كَانَت بَنُو إسرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبياءُ ، كُلَّما هَلَكَ نبي خَلَفَهُ نبي ، وَإنَّهُ لا نبي بَعدي ، وسَيَكُونُ بَعدي خُلَفَاءُ فَيَكثُرُونَ » قالوا : يَا رسول اللَّه فَما تَأْمُرُنَا ؟ قال : « أَوفُوا بِبَيعَةِ الأَوَّلِ فالأَوَّلِ ، ثُمَّ أَعطُوهُم حَقَّهُم ، وَاسأَلوا اللَّه الذي لَكُم ، فَإنَّ اللَّه سائِلُهم عمَّا استَرعاهُم » متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, tetapi akan ada banyak khalifah." Para sahabat bertanya: "Apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab: "Penuhilah baiat (kepemimpinan) yang pertama, lalu yang pertama. Berikanlah hak mereka (para pemimpin), dan mintalah hak kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa setelah Nabi Muhammad ﷺ, kepemimpinan umat Islam dipegang oleh para khalifah, bukan nabi lagi. Inti ajarannya adalah kewajiban taat kepada penguasa yang sah (yang dibaiat pertama) selama tidak memerintahkan maksiat. Kewajiban rakyat adalah menunaikan hak pemimpin (seperti ketaatan dalam kebenaran), sementara hak rakyat atas pemimpin harus diminta kepada Allah, yang akan meminta pertanggungjawaban para pemimpin atas amanahnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa setelah Nabi Muhammad ﷺ, kepemimpinan umat Islam dipegang oleh para khalifah, bukan nabi lagi. Inti ajarannya adalah kewajiban taat kepada penguasa yang sah (yang dibaiat pertama) selama tidak memerintahkan maksiat. Kewajiban rakyat adalah menunaikan hak pemimpin (seperti ketaatan dalam kebenaran), sementara hak rakyat atas pemimpin harus diminta kepada Allah, yang akan meminta pertanggungjawaban para pemimpin atas amanahnya.
# 7
وعن عائِذ بن عمروٍ رضي اللَّه عنه أَنَّهُ دَخَلَ على عُبيدِ اللَّهِ ابن زِيادٍ ، فقال له : أَيْ بُنَيَّ ، إني سَمِعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إنَّ شَرَّ الرِّعاءِ الحُطَمةُ » فإيَّاكَ أن تَكُونَ مِنْهُم ، متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Dia menemui Ubaydullah bin Ziyad, lalu berkata: "Wahai anakku! Sungguh aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah yang kejam.' Maka, berhati-hatilah jangan sampai kamu termasuk golongan mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kriteria buruk seorang pemimpin, yaitu sifat keras dan kejam (al-huthamah) yang merusak rakyatnya. Pelajaran utamanya adalah peringatan keras bagi setiap penguasa agar menghindari sikap zalim dan sewenang-wenang. Sebaliknya, seorang pemimpin harus mengedepankan keadilan, kasih sayang, dan bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kriteria buruk seorang pemimpin, yaitu sifat keras dan kejam (al-huthamah) yang merusak rakyatnya. Pelajaran utamanya adalah peringatan keras bagi setiap penguasa agar menghindari sikap zalim dan sewenang-wenang. Sebaliknya, seorang pemimpin harus mengedepankan keadilan, kasih sayang, dan bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya.
# 8
وعن أبي مريمَ الأَزدِيِّ رضي اللَّه عنه ، أَنه قَالَ لمعَاوِيةَ رضي اللَّه عنه : سَمِعتُ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « من ولاَّهُ اللَّه شَيئاً مِن أُمورِ المُسلِمينَ فَاحَتجَبَ دُونَ حَاجتهِمِ وخَلَّتِهم وفَقرِهم ، احتَجَب اللَّه دُونَ حَاجَتِه وخَلَّتِهِ وفَقرِهِ يومَ القِيامةِ » فَجعَل مُعَاوِيةُ رجُلا على حَوَائجِ الناسِ . رواه أبو داودَ ، والترمذي .
Terjemahan
Dari Abu Maryam Al-Azdi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Dia berkata kepada Mu'awiyah: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang Allah beri wewenang untuk mengurusi suatu urusan dari urusan kaum muslimin, lalu dia menghalangi mereka dari kebutuhan dan keperluan mereka, maka Allah akan menghalanginya dari kebutuhan dan keperluannya pada hari kiamat." Sejak saat itu, Mu'awiyah selalu menangani kebutuhan orang-orang. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tanggung jawab besar seorang pemimpin atau pengurus urusan umat. Inti ajarannya adalah keharusan untuk mudah diakses dan memenuhi kebutuhan rakyat. Ancaman bagi yang mengabaikannya sangat berat, yaitu Allah akan menghalangi kebutuhannya di akhirat. Oleh karena itu, respons Mu'awiyah yang segera menunjuk petugas khusus untuk urusan rakyat menjadi teladan praktis dalam mengamalkan hadis ini.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tanggung jawab besar seorang pemimpin atau pengurus urusan umat. Inti ajarannya adalah keharusan untuk mudah diakses dan memenuhi kebutuhan rakyat. Ancaman bagi yang mengabaikannya sangat berat, yaitu Allah akan menghalangi kebutuhannya di akhirat. Oleh karena itu, respons Mu'awiyah yang segera menunjuk petugas khusus untuk urusan rakyat menjadi teladan praktis dalam mengamalkan hadis ini.