Kitab 2 · Bab 1
Keutamaan rasa malu dan anjuran untuk berpegang teguh padanya.
✦ 4 Hadith ✦
# 1
عن ابْنِ عُمَرَ رضي اللَّه عنهما أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ في الحَيَاءِ ، فَقَالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « دَعْهُ فإِنَّ الحياءَ مِنَ الإِيمانِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ pernah berjalan dan bertemu seorang laki-laki Anshar yang sedang menasihati saudaranya agar tidak memiliki rasa malu. Rasulullah ﷺ bersabda: "Biarkan dia, karena rasa malu itu adalah bagian dari iman."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa rasa malu (al-haya’) bukanlah sifat tercela, melainkan bagian integral dari keimanan. Rasulullah ﷺ melarang mencela orang yang memiliki sifat malu, karena ia merupakan cabang iman yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk dan mendorongnya berakhlak mulia. Dengan demikian, sifat malu yang sesuai tuntunan syariat justru harus dipelihara.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa rasa malu (al-haya’) bukanlah sifat tercela, melainkan bagian integral dari keimanan. Rasulullah ﷺ melarang mencela orang yang memiliki sifat malu, karena ia merupakan cabang iman yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk dan mendorongnya berakhlak mulia. Dengan demikian, sifat malu yang sesuai tuntunan syariat justru harus dipelihara.
# 2
وعن عِمْران بن حُصَيْن ، رضي اللَّه عنهما ، قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «الحياَءُ لا يَأْتي إلاَّ بِخَيْرٍ » متفق عليه .
وفي رواية لمسلم : « الحَياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ » أوْ قَالَ : « الحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ » .
Terjemahan
Dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Rasa malu itu seluruhnya membawa kebaikan."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Rasa malu itu seluruhnya baik." Atau beliau bersabda: "Seluruh rasa malu itu baik."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa rasa malu (al-haya') yang bersumber dari iman adalah sifat terpuji yang selalu membawa kebaikan. Ia menjadi penjaga dari perbuatan buruk dan penghalang dari maksiat. Oleh karena itu, seorang muslim harus melatih dan memelihara rasa malu ini, karena ia merupakan cabang dari keimanan yang akan mendatangkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Rasa malu itu seluruhnya baik." Atau beliau bersabda: "Seluruh rasa malu itu baik."
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa rasa malu (al-haya') yang bersumber dari iman adalah sifat terpuji yang selalu membawa kebaikan. Ia menjadi penjaga dari perbuatan buruk dan penghalang dari maksiat. Oleh karena itu, seorang muslim harus melatih dan memelihara rasa malu ini, karena ia merupakan cabang dari keimanan yang akan mendatangkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
# 3
وعن أبي هُريرة رضي اللَّه عنه ، أنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « الإيمَانُ بِضْع وسبْعُونَ ، أوْ بِضْعُ وَسِتُّونَ شُعْبةً ، فَأَفْضَلُها قوْلُ لا إله إلاَّ اللَّه ، وَأدْنَاها إمَاطةُ الأَذَى عنَ الطَّرِيقِ ، والحياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمَانِ » متفق عليه .
« البِضْعُ » : بكسر الباء . ويجوز فتحها ، وَهُوَ مِن الثلاثةِ إلى الْعَشَرَةِ . « وَالشُّعْبَةُ » : الْقِطْعَةُ والحَضْلَةُ . « وَالإماطَةُ » : الإزَالَةُ ، « وَالأَذَى »: مَا يُؤذِي كَحجَرٍ وَشَوْكٍ وَطينٍ وَرَمَادٍ وَقَذَرٍ وَنحوِ ذلكَ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Iman itu memiliki tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan 'Laa ilaaha illallah' (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman." (Muttafaqun 'alaih).
Penjelasan: "Al-Bi'dhu" dengan memfathahkan atau mengkasrahkan ba', artinya antara tiga sampai sepuluh. "Asy-Syu'bah" artinya bagian atau cabang. "Al-Imathah" artinya menghilangkan. "Al-Adza" artinya sesuatu yang mengganggu seperti batu, duri, lumpur, abu, kotoran, dan sejenisnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa iman bukanlah satu kesatuan yang kaku, melainkan terdiri dari puluhan cabang amalan yang mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan. Iman memiliki tingkatan, dari yang tertinggi seperti syahadat hingga yang terlihat sederhana seperti menyingkirkan duri dari jalan. Hal ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman dicapai dengan mengamalkan seluruh cabangnya, di mana rasa malu—sebagai pengendali diri—juga merupakan bagian integral dari keimanan.
Penjelasan: "Al-Bi'dhu" dengan memfathahkan atau mengkasrahkan ba', artinya antara tiga sampai sepuluh. "Asy-Syu'bah" artinya bagian atau cabang. "Al-Imathah" artinya menghilangkan. "Al-Adza" artinya sesuatu yang mengganggu seperti batu, duri, lumpur, abu, kotoran, dan sejenisnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa iman bukanlah satu kesatuan yang kaku, melainkan terdiri dari puluhan cabang amalan yang mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan. Iman memiliki tingkatan, dari yang tertinggi seperti syahadat hingga yang terlihat sederhana seperti menyingkirkan duri dari jalan. Hal ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman dicapai dengan mengamalkan seluruh cabangnya, di mana rasa malu—sebagai pengendali diri—juga merupakan bagian integral dari keimanan.
# 4
وعن أبي سعيد الخُدْرِيِّ رضي اللَّه عنه ، قال : كان رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَشَدَّ حَيَاءَ مِنَ الْعَذْرَاءِ في خِدْرِهَا ، فَإذَا رأى شَيْئاً يَكْرَهُه عَرَفْنَاهُ في وَجْهِهِ . متفقٌ عليه .
قال العلماءُ : حَقِيقَةُ الحَياء خُلُقٌ يبْعثُ على تَرْكِ الْقَبِيحِ ، ويمْنَعُ منَ التقْصير في حَقِّ ذِي الحَقِّ . وَروَيْنَا عنْ أبي الْقَاسم الجُنيْدِ رَحمَهُ اللَّه قال : الحَيَاءُ رُؤيَةُ الآلاء أي : النِّعمِ ورؤْيةُ التَّقْصِيرِ . فَيَتوَلَّدُ بيْنَهُمَا حالة تُسَمَّى حياءً
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Rasulullah ﷺ lebih pemalu daripada gadis pingitan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami mengetahuinya dari wajah beliau." (Muttafaqun 'alih).
Para ulama berkata: Hakikat malu adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan perbuatan buruk dan mencegah dari mengabaikan hak orang yang berhak. Dan kami meriwayatkan dari Abul Qasim Al-Junaid rahimahullah, dia berkata: "Malu adalah melihat berbagai nikmat dan melihat kekurangan diri, maka dari keduanya lahirlah suatu keadaan yang disebut malu."
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa agungnya sifat malu Nabi Muhammad ﷺ, melebihi seorang gadis yang tersembunyi. Hakikat malu dalam Islam bukan sekadar perasaan, tetapi akhlak aktif yang mendorong meninggalkan keburukan dan menunaikan hak. Sebagaimana dijelaskan para ulama, malu lahir dari kesadaran akan banyaknya nikmat Allah dan pengakuan akan kekurangan diri dalam bersyukur.
Para ulama berkata: Hakikat malu adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan perbuatan buruk dan mencegah dari mengabaikan hak orang yang berhak. Dan kami meriwayatkan dari Abul Qasim Al-Junaid rahimahullah, dia berkata: "Malu adalah melihat berbagai nikmat dan melihat kekurangan diri, maka dari keduanya lahirlah suatu keadaan yang disebut malu."
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa agungnya sifat malu Nabi Muhammad ﷺ, melebihi seorang gadis yang tersembunyi. Hakikat malu dalam Islam bukan sekadar perasaan, tetapi akhlak aktif yang mendorong meninggalkan keburukan dan menunaikan hak. Sebagaimana dijelaskan para ulama, malu lahir dari kesadaran akan banyaknya nikmat Allah dan pengakuan akan kekurangan diri dalam bersyukur.