Kitab 2 · Bab 2
Menjaga rahasia.
✦ 5 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وأوفوا بالعهد إن العهد كان مسؤولاً ﴾ .سورة الإسراء(34)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 34)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kewajiban mutlak untuk menepati semua janji dan perjanjian, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Perintah ini disertai ancaman bahwa setiap janji akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Hikmahnya, ayat ini membangun masyarakat yang aman dan penuh kepercayaan, serta mengajarkan bahwa menjaga komitmen adalah ciri keimanan dan akhlak mulia.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan kewajiban mutlak untuk menepati semua janji dan perjanjian, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Perintah ini disertai ancaman bahwa setiap janji akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Hikmahnya, ayat ini membangun masyarakat yang aman dan penuh kepercayaan, serta mengajarkan bahwa menjaga komitmen adalah ciri keimanan dan akhlak mulia.
# 2
وعن أبي سعيد الخُدْرِيِّ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَة يَوْم الْقِيامَةِ الرَّجُل يُفضِي إلى المَرْأَةِ وَتُفضِي إلَيهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا» رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menggauli istrinya, lalu istrinya menggaulinya, kemudian dia menyebarkan rahasia (hubungan intim) istrinya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keharusan menjaga rahasia dan kehormatan dalam hubungan suami-istri. Menyebarkan detail hubungan intim merupakan pengkhianatan terhadap amanah dan privasi pasangan, serta merendahkan martabatnya. Perbuatan ini digambarkan sebagai salah satu kedudukan terburuk di sisi Allah, menunjukkan besarnya dosa dan penghinaan yang terkandung di dalamnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keharusan menjaga rahasia dan kehormatan dalam hubungan suami-istri. Menyebarkan detail hubungan intim merupakan pengkhianatan terhadap amanah dan privasi pasangan, serta merendahkan martabatnya. Perbuatan ini digambarkan sebagai salah satu kedudukan terburuk di sisi Allah, menunjukkan besarnya dosa dan penghinaan yang terkandung di dalamnya.
# 3
وعن عبد اللَّه بن عمر رضي اللَّه عنهما أن عمر رضي اللَّه عنه حين تَأَيَّمتْ بِنْتُهُ حفْصةُ قال : لقيتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّان رضي اللَّه عنه ، فَعَرَضْتُ علَيْهِ حفصةَ فَقلتُ : إنْ شِئتَ أنكَحْتُكَ حَفْصَةَ بِنْتَ عُمرَ ؟ قال : سَأَنْظُرُ في أمْرِي فَلبِثْتُ ليَالِيَ ، ثُمَّ لَقِيني ، فقال: قد بدا لي أنْ لا أَتَزَوَّجَ يوْمي هذا ، فَلَقِيتُ أبا بَكْرِ الصِّديقَ رضي اللَّه عنه . فقلتُ : إن شِئْتَ أَنكَحْتُكَ حَفْصةَ بنْتَ عُمَر ، فصمتَ أبو بكْر رضي اللَّه عنه ، فَلَمْ يرْجِعْ إليَّ شَيْئاً، فَكُنْتُ عَلَيْهِ أَوجَد مِنِّي على عُثْمانَ ، فَلَبثْتُ ليَالي ، ثُمَّ خطَبهَا النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَنْكَحْتُهَا إيَّاهُ ، فلَقِينَي أبُو بكْرٍ فقال : لَعَلَّكَ وجَدْتَ علَيَّ حِينَ عَرضْتَ علَيَّ حفْصة فَلَمْ أَرْجعْ إِلْيَكَ شَيْئاً ؟ فقلت : نَعمْ . قال : فإنهْ لمْ يَمْنعْني أنْ أرْجِعَ إِلَيْكَ فيما عرضْتَ عليَّ الاَّ أَنِّي كُنْتُ عَلِمْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذَكرَها ، فَلَمْ أَكُنْ لأَفْشِي سِرَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ولوْ تَركَهَا النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لقَبِلْتُهَا ، رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa ketika Hafshah menjadi janda, Umar berkata: "Aku bertemu Utsman bin 'Affan dan aku menawarkan putriku Hafshah untuknya. Aku berkata: 'Jika engkau mau, aku akan menikahkan putriku Hafshah, anak Umar, denganmu.' Dia menjawab: 'Aku akan pertimbangkan dulu.' Aku menunggu beberapa malam, kemudian dia menemuiku dan berkata: 'Aku merasa tidak bisa menikah saat ini.' Kemudian aku bertemu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata: 'Jika engkau mau, aku akan menikahkan Hafshah, putri Umar, denganmu.' Saat itu Abu Bakar diam saja, tidak menjawabku. Aku lebih marah kepadanya daripada kepada Utsman. Beberapa hari kemudian, Rasulullah ﷺ melamar Hafshah, dan aku menikahkannya dengan beliau. Setelah itu, Abu Bakar menemuiku dan berkata: 'Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak menjawabmu?' Umar menjawab: 'Benar.' Abu Bakar berkata: 'Alasan yang menghalangiku untuk menjawabmu adalah karena aku tahu Rasulullah ﷺ telah menyebut-nyebutnya (ingin melamarnya), dan aku tidak ingin membocorkan rahasia Rasulullah ﷺ. Seandainya Rasulullah ﷺ tidak mengambilnya, tentu aku akan menerimanya.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan adab tinggi dalam meminang dan lamaran. Umar RA menghormati keputusan Utsman RA yang menolak dengan halus tanpa menyakiti, dan Abu Bakar RA diam sebagai bentuk kesantunan karena mengetahui Rasulullah SAW berminat. Sikap para sahabat ini mengajarkan untuk menjaga perasaan orang lain, tidak memaksa kehendak, dan bersikap sabar serta bijaksana dalam urusan pernikahan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan adab tinggi dalam meminang dan lamaran. Umar RA menghormati keputusan Utsman RA yang menolak dengan halus tanpa menyakiti, dan Abu Bakar RA diam sebagai bentuk kesantunan karena mengetahui Rasulullah SAW berminat. Sikap para sahabat ini mengajarkan untuk menjaga perasaan orang lain, tidak memaksa kehendak, dan bersikap sabar serta bijaksana dalam urusan pernikahan.
# 4
وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالتْ : كُنَّ أَزْواجُ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عنْدهُ ، فَأْقْبلتْ فَاطِمةُ رضي اللَّه عنها تَمْشِي . مَا تَخْطيءُ مِشْيتُهَا مِنْ مِشْيَةِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم شَيْئاً ، فَلَمَّا رآها رَحَّبَ بها وقال : « مرْحباً بابنَتي » ثُمَّ أَجْلَسهَا عنْ يمِيِنِهِ أَوْ عنْ شِمالِهِ . ثُمَّ سارَّها فَبَكتْ بُكَاءً شديداً ، فلَمَّا رَأى جَزَعَها سَارَّها الثَّانِيةَ فَضَحِكَت ، فقلت لهَا : خصَّك رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِن بيْنِ نِسائِهِ بالسَّرارِ ، ثُمَّ أَنْتِ تَبْكِين ؟
فَلَمَّا قَام رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سأَلْتُهَا : ما قال لكِ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ؟ قالت : ما كُنْتُ لأفْشِي عَلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سِرَّهُ . فَلَمَّا تُوُفِّيَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قلتُ : عَزَمْتُ عَلَيْكِ بِمَا لي عَلَيْكِ مِنَ الحَقِّ ، لَمَا حدَّثْتنِي ما قال لكِ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ؟ فقالتْ : أَمَّا الآنَ فَنعم ، أَما حِين سَارَّني في المَرَّةِ الأولى فَأخْبرني « أَنَّ جِبْرِيل كَان يُعارِضُهُ القُرْآن في كُلِّ سَنَةٍ مرَّة أَوْ مَرَّتَيْن، وأَنَّهُ عَارَضهُ الآنَ مَرَّتَيْنِ ، وإني لا أُرَى الأجَل إلاَّ قدِ اقْتَرَب ، فاتَّقِي اللَّه واصْبِرِي ، فَإنَّهُ نِعْم السَّلَف أَنَا لكِ » فَبَكَيْتُ بُكَائيَ الذي رأيْتِ ، فَلَمَّا رَأَى جَزعِي سَارَّني الثَانيةَ ، فقال : « يَا فَاطمةُ أَما تَرْضِينَ أَنْ تَكُوني سيِّدَةَ نِسَاء المُؤْمِنِينَ ، أوْ سَيِّدةَ نِساءِ هذهِ الأمَّةِ ؟ » فَضَحِكتُ ضَحِكي الذي رأَيْتِ ، متفقٌ عليه . وهذا لفظ مسلم .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: "Kami adalah istri-istri Nabi ﷺ yang sedang bersama beliau. (Suatu hari) Fatimah datang dengan cara berjalan yang tidak berbeda dengan cara berjalan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatnya, beliau menyambutnya dengan berkata: 'Selamat datang, putriku!' Kemudian beliau menyuruhnya duduk di sebelah kanan atau kiri beliau. Lalu beliau membisikinya sehingga dia menangis keras. Ketika beliau melihatnya sangat sedih, beliau membisikinya untuk kedua kalinya sehingga dia tertawa. Aku berkata kepadanya: 'Rasulullah ﷺ memilihmu di antara istri-istrinya untuk membicarakan rahasia, tetapi engkau malah menangis.' Ketika Rasulullah ﷺ pergi, aku bertanya kepadanya: 'Apa yang Rasulullah ﷺ katakan kepadamu?' Dia menjawab: 'Aku tidak boleh membocorkan rahasia Rasulullah ﷺ.' Setelah Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepadanya: 'Demi hakku atas dirimu, ceritakanlah kepadaku apa yang Rasulullah ﷺ katakan kepadamu.' Dia menjawab: 'Sekarang aku bisa menceritakannya. Sesungguhnya, ketika beliau membisikiku pertama kali, beliau memberitahuku bahwa: 'Jibril biasanya membacakan Al-Qur'an kepadaku setahun sekali atau dua kali setahun, tetapi tahun ini dia melakukannya dua kali. Aku merasa ajalku sudah dekat. Maka bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya, pendahulu yang terbaik bagimu adalah aku.' Maka aku pun menangis seperti yang engkau lihat. Ketika beliau melihat kesedihanku, beliau membisikiku untuk kedua kalinya, beliau bersabda: 'Wahai Fatimah, tidakkah engkau suka menjadi pemimpin wanita penghuni surga atau pemimpin wanita umat ini?' Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kedudukan mulia Fatimah di sisi Rasulullah ﷺ, yang tampak dari sambutan hangat, tempat duduk khusus, dan pembicaraan rahasia beliau dengannya. Tangisan dan tawa Fatimah pasca bisikan Nabi mengisyaratkan bahwa beliau memberitahunya tentang takdir yang akan terjadi, baik yang menyedihkan maupun yang menggembirakan. Ini mengajarkan tentang pentingnya komunikasi dan perhatian khusus orang tua kepada anak, serta ketabahan dalam menerima takdir Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kedudukan mulia Fatimah di sisi Rasulullah ﷺ, yang tampak dari sambutan hangat, tempat duduk khusus, dan pembicaraan rahasia beliau dengannya. Tangisan dan tawa Fatimah pasca bisikan Nabi mengisyaratkan bahwa beliau memberitahunya tentang takdir yang akan terjadi, baik yang menyedihkan maupun yang menggembirakan. Ini mengajarkan tentang pentingnya komunikasi dan perhatian khusus orang tua kepada anak, serta ketabahan dalam menerima takdir Allah.
# 5
وعن ثابتٍ عن أنس ، رضي اللَّه عنه قال : أَتى عليَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وأَنا ألْعبُ مع الْغِلْمانِ ، فسلَّمَ عَلَيْنَا ، فَبَعَثني في حاجة ، فَأبْطأْتُ على أُمِّي ، فَلَمَّا جِئتُ قالت : ما حَبَسَكَ ؟ فقلتُ : بَعَثَني رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لحَاجَةٍ ، قالت : ما حَاجتهُ ؟ قلت : إِنَّهَا سرٌّ . قالتْ: لا تُخِبرَنَّ بسِر رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أحداً . قال أَنَسٌ : واللَّهِ لوْ حدَّثْتُ بِهِ أحَداً لحدَّثْتُكَ بِهِ يَا ثابِت . رواه مسلم . وروى البخاري بَعْضَهُ مُخْتصراً .
Terjemahan
Dari Syaqiq bin Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Rasulullah ﷺ menemuiku saat aku sedang bermain dengan anak-anak kecil. Beliau memberi salam kepadaku, kemudian beliau menyuruhku untuk suatu keperluan, sehingga aku pulang terlambat menemui ibuku. Ketika aku sampai, dia bertanya: 'Apa yang menahanmu?' Aku menjawab: 'Rasulullah ﷺ menyuruhku untuk suatu keperluan.' Dia bertanya: 'Apa keperluannya?' Aku menjawab: 'Itu adalah rahasia.' Dia berkata: 'Janganlah engkau ceritakan rahasia Rasulullah ﷺ kepada siapa pun.' Anas berkata: 'Demi Allah! Seandainya aku bisa menceritakannya kepada seseorang, tentu aku akan menceritakannya kepadamu, wahai Syaqiq.'" (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga amanah dan rahasia, khususnya yang berasal dari pemimpin (dalam hal ini Rasulullah ﷺ). Anas bin Malik diajari oleh ibunya untuk tidak membocorkan rahasia beliau kepada siapapun, menunjukkan betapa tingginya nilai kerahasiaan dalam Islam. Kisah ini juga menggambarkan pendidikan akhlak dalam keluarga, di mana seorang ibu mendidik anaknya untuk memegang teguh kepercayaan yang diberikan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga amanah dan rahasia, khususnya yang berasal dari pemimpin (dalam hal ini Rasulullah ﷺ). Anas bin Malik diajari oleh ibunya untuk tidak membocorkan rahasia beliau kepada siapapun, menunjukkan betapa tingginya nilai kerahasiaan dalam Islam. Kisah ini juga menggambarkan pendidikan akhlak dalam keluarga, di mana seorang ibu mendidik anaknya untuk memegang teguh kepercayaan yang diberikan.