Jeda Diam dalam Shalat
Jeda Diam (Saktah) yang Disunnahkan dalam Shalat
Saktah adalah jeda diam sejenak di antara bacaan-bacaan dalam shalat. Ada enam tempat saktah yang disunnahkan, masing-masing selama kira-kira satu bacaan tasbih (subhaanallah) โ kecuali saktah antara amin dan surah yang bagi imam disunnahkan lebih panjang agar makmum sempat menyelesaikan bacaan Al-Fatihah mereka.
Enam Tempat Saktah yang Disunnahkan
- Antara Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah: Jeda sejenak setelah mengucapkan "Allahu Akbar" sebelum membaca doa pembuka shalat.
- Antara Doa Iftitah dan Ta'awwuz: Jeda sejenak setelah selesai membaca doa iftitah sebelum membaca "A'uudzubillahi minasysyaythaanirrajiim."
- Antara Ta'awwuz dan Al-Fatihah: Jeda sejenak setelah ta'awwuz sebelum memulai basmalah dan Al-Fatihah.
- Antara Akhir Al-Fatihah dan Amin: Jeda sejenak setelah membaca "waladh-dhaalliin" sebelum mengucapkan "Aamiin."
- Antara Amin dan Surah: Jeda sejenak setelah "Aamiin" sebelum membaca surah pilihan. Bagi imam, saktah ini disunnahkan lebih panjang โ sekira waktu yang cukup bagi makmum untuk menyelesaikan bacaan Al-Fatihah mereka.
- Antara Surah dan Rukuk: Jeda sejenak setelah selesai membaca surah sebelum bertakbir untuk rukuk.
Catatan
Saktah ini bukan kewajiban melainkan sunnah ab'ad โ meninggalkannya tidak membatalkan shalat namun mengurangi kesempurnaan shalat. Tujuannya adalah memberikan pemisah yang jelas antara satu bacaan dengan bacaan berikutnya, serta memberi kesempatan makmum mempersiapkan diri.
Dalil
"Rasulullah SAW apabila selesai membaca (Al-Fatihah) dan membaca 'waladh-dhaalliin', beliau diam sejenak kemudian mengangkat suaranya dengan 'Aamiin'." (HR. Abu Dawud dan Daruquthni)
Kitab Safinatun Najah ยท Syaikh Salim bin Samir Al-Hadhrami ยท Mazhab Syafi'i