✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Menjenguk Orang Sakit
Kitab 7 · Bab 2

Apa yang dibacakan untuk orang sakit.

✦ 9 Hadith ✦
# 1
عن عائشة ، رضي اللَّه عنها ، أَن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَانَ إِذا اشْتكى الإِنْسانُ الشَّيءَ مِنْهُ، أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحةٌ أَوْ جُرْحٌ ، قال النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، بأُصْبُعِهِ هكذا ، ووضع سُفْيانُ بْنُ عُييْنَة الرَّاوي سبابتَهُ بِالأَرْضِ ثُمَّ رَفَعَهَا وقال : بِسْمِ اللَّهِ ، تُربَةُ أَرْضِنا ، بِرِيقَةِ بَعْضنَا ، يُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا ، بِإِذْن رَبِّنَا » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Nabi ﷺ, apabila ada orang yang sakit atau terluka, beliau meletakkan jari telunjuknya seperti ini (Sufyan bin 'Uyainah, perawi hadits, meletakkan jari telunjuknya ke tanah, lalu mengangkatnya) dan membaca doa:
"Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan ludah sebagian kami, semoga disembuhkan orang sakit kami dengan izin Tuhan kami."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa pengobatan dengan doa dan bahan alami (debu dan ludah) adalah sunnah Nabi, selama disertai keyakinan bahwa kesembuhan mutlak datang dari Allah. Ini menunjukkan kesederhanaan dan kemudahan syariat Islam, serta pentingnya menggabungkan ikhtiar lahir (pengobatan) dengan ikhtiar batin (doa dan tawakkal). Intinya, setiap upaya penyembuhan harus dimulai dengan menyebut nama Allah dan diyakini hanya berhasil dengan izin-Nya.

# 2
وعنها أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَانَ يعُودُ بَعْضَ أَهْلِهِ يَمْسَحُ بيدِهِ اليُمْنى ويقولُ : « اللَّهُمَّ ربَّ النَّاسِ ، أَذْهِب الْبَأسَ ، واشْفِ ، أَنْتَ الشَّافي لا شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفاءً لا يُغَادِرُ سقَماً » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ menjenguk sebagian keluarganya. Beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil berdoa: "Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan antara ikhtiar jasmani (mengusap dengan tangan) dengan ikhtiar rohani (berdoa). Doa beliau menegaskan bahwa kesembuhan mutlak berasal dari Allah, sehingga seorang muslim harus bertawakal dan tidak bergantung hanya pada pengobatan lahiriah. Ini juga mengandung teladan untuk menjenguk orang sakit serta anjuran berdoa dengan keyakinan penuh akan kekuasaan Allah sebagai satu-satunya Penyembuh.

# 3
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه أَنه قال لِثابِتٍ رحمه اللَّه : أَلا أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ؟ قال : بَلى . قال : اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ ، مُذْهِبَ البَأسِ ، اشْفِ أَنتَ الشَّافي ، لا شافي إِلاَّ أَنْتَ ، شِفاءً لا يُغادِر سَقَماً . رواه البخاري .
Terjemahan
Anas radhiyallahu 'anhu berkata kepada Tsabit: "Maukah kamu aku ruqyah dengan bacaan ruqyah Rasulullah ﷺ?" Tsabit menjawab: "Ya, mau." Lalu Anas membaca doa:
"Ya Allah, Tuhan manusia, Yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali Engkau, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ruqyah syar'iyyah dengan doa-doa dari Nabi adalah pengobatan yang disyariatkan. Doa ini menegaskan tauhid dengan mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang menghilangkan penyakit dan memberikan kesembuhan. Hikmahnya, seorang muslim harus bersandar dan memohon hanya kepada Allah dalam mencari kesembuhan, disertai dengan keyakinan penuh akan kuasa-Nya.

# 4
وعن سعدِ بن أَبي وَقَّاصٍ رضي اللَّه عنه قال : عَادَني رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : «اللَّهُمَّ اشْفِ سعْداً ، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْداً ، اللَّهُمْ اشْفِ سَعداً » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ menjengukku dan beliau berdoa:
"Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad."
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan menjenguk orang sakit dan anjuran untuk mendoakannya secara langsung di sisinya. Pengulangan doa Nabi ﷺ sebanyak tiga kali mengajarkan tentang kesungguhan, pengharapan, dan keyakinan dalam bermunajat kepada Allah. Selain itu, hadis ini juga menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang penuh kasih sayang dan perhatian terhadap sahabatnya.

# 5
وعن أَبي عبد اللَّهِ عثمانَ بنِ العَاصِ ، رضي اللَّه عنه أَنه شَكا إِلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَجعاً يجِدُهُ في جَسدِهِ ، فقال له رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «ضَعْ يَدَكَ عَلى الذي يَأْلَمُ مِن جَسَدِكَ وَقلْ : بِسمِ اللَّهِ ثَلاثاً وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ : أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحاذِرُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Abdillah 'Utsman bin Abil 'Ash radhiyallahu 'anhu, ia mengeluhkan rasa sakit di tubuhnya kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit dari tubuhmu, lalu bacalah 'Bismillah' (Dengan nama Allah) tiga kali. Kemudian bacalah tujuh kali:
'Aku berlindung dengan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kudapati dan kukhawatirkan.'"
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kombinasi antara ikhtiar jasmani dan doa sebagai metode pengobatan. Letakan tangan di area sakit adalah bentuk perhatian dan harapan kesembuhan, sementara bacaan dzikir memurnikan permohonan hanya kepada Allah. Intinya, Islam mensyariatkan ruqyah sederhana yang menggabungkan keyakinan pada kekuasaan Allah (ʿizzah wa qudrah) dengan tindakan fisik, menunjukkan bahwa meminta perlindungan dari-Nya adalah obat utama dari segala rasa sakit dan kekhawatiran.

# 6
وعن ابن عباسٍ ، رضي اللَّه عنهما ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ عَادَ مَرِيضاً لَمْ يَحْضُرْهُ أَجَلُهُ ، فقالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مَرَّات : أَسْأَلُ اللَّه الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشفِيَك : إِلاَّ عَافَاهُ اللَّه مِنْ ذلكَ المَرَضِ » رواه أبو داود والترمذي وقال : حديث حسن، وقال الحاكِم : حديث صحيح على شرطِ البخاري .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa menjenguk orang sakit yang belum sampai ajalnya, lalu ia membaca di sisinya tujuh kali:
'Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan pemilik 'Arsy yang agung, agar Dia menyembuhkanmu.'
Maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan menjenguk orang sakit disertai doa dengan keyakinan penuh. Doa yang diajarkan Nabi �ung memuliakan nama Allah (Al-'Azhim, Rabbul 'Arsy) dan memohon kesembuhan secara spesifik. Pengulangan doa tujuh kali menunjukkan kesungguhan dan pengharapan. Intinya, ikhtiar jasmani (menjenguk) harus diiringi ikhtiar rohani (doa) dengan tawakkal kepada Allah sebagai satu-satunya penyembuh.

# 7
وعنه أَنَّ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم دَخَل على أَعَرابيٍّ يَعُودُهُ ، وَكانَ إذا دَخَلَ عَلى مَن يَعُودُهُ قال : « لا بَأْس ، طَهُورٌ إِن شَاء اللَّه » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma juga, ia berkata: Nabi ﷺ pernah menjenguk seorang badui. Dan apabila beliau menjenguk orang yang sakit, beliau biasa membaca:
"Tidak apa-apa (semoga) menjadi penyuci (dosa), insya Allah."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sunnah menjenguk orang sakit dan doa yang dipanjatkan. Ucapan Nabi �, "La ba'sa thahurun insya Allah," mengandung makna mendalam: menenangkan hati si sakit, mendoakan kesembuhan, serta mengingatkan bahwa sakit dapat menjadi penghapus dosa dan penyuci jiwa bagi orang yang bersabar. Ini menunjukkan sikap optimis dan tawakal, menggabungkan ikhtiar (berobat) dengan keyakinan pada hikmah Allah.

# 8
وعن أَبي سعيد الخُدْرِيِّ رضي اللَّه عنه أَن جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : يَا مُحَمدُ اشْتَكَيْتَ ؟ قال : « نَعَمْ » قال : بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عيْنِ حَاسِدٍ ، اللَّهُ يشْفِيك ، بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Jibril pernah mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya: "Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?" Beliau menjawab: "Ya." Maka Jibril membaca ruqyah:
"Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata pendengki, Allah yang menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu."
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sakit adalah bagian dari kehidupan manusia, bahkan dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Jibril mengajarkan doa ruqyah yang sangat penting, menegaskan bahwa penyembuhan sejati datang dari Allah semata dengan menyebut nama-Nya. Doa ini juga menjadi perlindungan dari bahaya, termasuk 'ain (pengaruh jahat mata) dan dengki, mengajarkan kita untuk senantiasa bersandar dan memohon perlindungan hanya kepada Allah.

# 9
وعن أَبي سعيد الخُدْرِيِّ وأَبي هريرة رضيَ اللَّه عنهما ، أَنهُما شَهِدَا على رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَنه قال : « مَنْ قال : لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ أَكْبَرُ ، صدَّقَهُ رَبَّهُ ، فقال : لا إِله إِلاَّ أَنَا وأَنا أَكْبرُ . وَإِذَا قال : لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وحْدهُ لا شَرِيكَ لَهُ ، قال : يقول : لا إِله إِلا أَنَا وحْدِي لا شَرِيك لي . وإذا قال : لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ، قال : لا إِلهَ إِلاَّ أَنَا ليَ المُلْك وَلىَ الحَمْدُ . وإِذا قال : لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَلا حَوْلَ ولا قَوَّةِ إِلاَّ بِاللَّهِ، قال لا إِله إِلاَّ أَنَا وَلا حَوْلَ ولا قوَّةَ إِلاَّ بي » وَكانَ يقولُ : « مَنْ قالهَا في مَرَضِهِ ثُمَّ ماتَ لَمْ تَطْعَمْهُ النَّارُ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن .
Terjemahan
Abu Sa'id dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma bersaksi bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengucapkan:
'La ilaha illallahu wallahu akbar.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)
maka Tuhan-nya membenarkannya dengan berfirman: 'La ilaha illa Ana wa Ana akbar.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, dan Aku Maha Besar).
Dan apabila ia mengucapkan:
'La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya)
maka Tuhan-nya berfirman: 'La ilaha illa Ana wahdi la syarika li.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Aku Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Ku).
Dan apabila ia mengucapkan:
'La ilaha illallahu lahul mulku wa lahul hamdu.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, milik-Nya kerajaan dan segala pujian)
maka Tuhan-nya berfirman: 'La ilaha illa Ana liyal mulku wa liyal hamdu.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, milik-Ku kerajaan dan segala pujian).
Dan apabila ia mengucapkan:
'La ilaha illallahu wa la haula wa la quwwata illa billah.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
maka Tuhan-nya berfirman: 'La ilaha illa Ana wa la haula wa la quwwata illa bi.'
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan-Ku)."
Beliau bersabda: "Barangsiapa membacanya ketika sakit, kemudian ia meninggal, maka neraka tidak akan membakarnya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan dzikir dengan kalimat tauhid. Setiap kali seorang hamba mengucapkan kalimat thayyibah tersebut, Allah langsung membenarkan dan menjawabnya dari sisi-Nya. Ini menunjukkan kedekatan Allah dan perhatian-Nya terhadap ucapan hamba, serta mengajarkan kita untuk memperbanyak dzikir dengan kesadaran bahwa Allah mendengar dan meresponsnya secara langsung.