Kitab 7 · Bab 14
Apa yang dibaca dalam shalat jenazah.
✦ 7 Hadith ✦
# 1
كبر أربع تكبيرات. يتعوذ بعد الأولى ثم يقرأ فاتحة الكتاب، ثم يكبر الثانية، ثم يصلي على النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم فيقول: اللهم صل على محمد وعلى آل محمد. والأفضل أن يتممه بقوله: كما صليت على إبراهيم إلى قوله حميد مجيد، ولا يفعل ما يفعله كثير من العوام من قولهم: ﴿ إن اللَّه وملائكته يصلون على النبي ﴾ الآية (56 الأحزاب) فإنه لا تصح صلاته إذا اقتصر عليه، ثم يكبر الثالثة ويدعو للميت وللمسلمين بما سنذكره من الأحاديث إن شاء اللَّه تعالى، ثم يكبر الرابعة ويدعو. ومن أحسنه: اللهم لا تحرمنا أجره، ولا تفتنا بعده، واغفر لنا وله. والمختار أنه يطول الدعاء في الرابعة خلاف ما يعتاده أكثر الناس؛ لحديث ابن أبي أوفى الذي سنذكره إن شاء اللَّه تعالى (انظر الحديث رقم 937) فأما الأدعية المأثورة بعد التكبيرة الثالثة فمنها:
Terjemahan
Dia bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) sebanyak empat kali. Setelah takbir pertama, membaca isti'adzah (A'udzu billahi minasy syaithanir rajim), kemudian membaca Al-Fatihah (Alhamdulillahi rabbil 'alamin...). Setelah takbir kedua, bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan membaca: "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad," tetapi yang lebih utama adalah membaca shalawat secara lengkap hingga "...kama shallaita 'ala Ibrahim... wa innaka hamidun majid."
Dia tidak boleh seperti sebagian orang yang hanya membaca satu ayat: "Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiyy," karena shalatnya tidak sah jika hanya membaca itu.
Kemudian dia bertakbir yang ketiga, lalu berdoa untuk mayit dan kaum muslimin, yang akan kami jelaskan dalam hadits-hadits berikutnya.
Kemudian dia bertakbir yang keempat dan berdoa. Dan yang terbaik adalah berdoa dengan: "Allahumma la tahrimna ajrahu, wa la taftinna ba'dahu, waghfir lana wa lahu."
Namun pilihan yang baik adalah dia berdoa panjang setelah takbir, berbeda dengan kebiasaan kebanyakan orang, karena ada hadits Abu Al-'Auf yang akan kami sebutkan di bawah.
Adapun doa yang memiliki dalil shahih setelah takbir ketiga adalah:
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara shalat jenazah yang empat takbir. Intinya, setiap takbir memiliki bacaan khusus: takbir pertama untuk isti'adzah dan Al-Fatihah, takbir kedua untuk shalawat Nabi yang lengkap (bukan hanya ayat), takbir ketiga untuk doa mayit dan kaum muslimin, serta takbir keempat untuk doa penutup. Pelajaran utamanya adalah pentingnya mengikuti tuntunan Nabi dalam ibadah, menghindari praktik yang tidak berdasar (seperti hanya membaca ayat saat shalawat), serta mendoakan kebaikan untuk si mayit dan umat Islam.
Dia tidak boleh seperti sebagian orang yang hanya membaca satu ayat: "Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiyy," karena shalatnya tidak sah jika hanya membaca itu.
Kemudian dia bertakbir yang ketiga, lalu berdoa untuk mayit dan kaum muslimin, yang akan kami jelaskan dalam hadits-hadits berikutnya.
Kemudian dia bertakbir yang keempat dan berdoa. Dan yang terbaik adalah berdoa dengan: "Allahumma la tahrimna ajrahu, wa la taftinna ba'dahu, waghfir lana wa lahu."
Namun pilihan yang baik adalah dia berdoa panjang setelah takbir, berbeda dengan kebiasaan kebanyakan orang, karena ada hadits Abu Al-'Auf yang akan kami sebutkan di bawah.
Adapun doa yang memiliki dalil shahih setelah takbir ketiga adalah:
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara shalat jenazah yang empat takbir. Intinya, setiap takbir memiliki bacaan khusus: takbir pertama untuk isti'adzah dan Al-Fatihah, takbir kedua untuk shalawat Nabi yang lengkap (bukan hanya ayat), takbir ketiga untuk doa mayit dan kaum muslimin, serta takbir keempat untuk doa penutup. Pelajaran utamanya adalah pentingnya mengikuti tuntunan Nabi dalam ibadah, menghindari praktik yang tidak berdasar (seperti hanya membaca ayat saat shalawat), serta mendoakan kebaikan untuk si mayit dan umat Islam.
# 2
عن أبي عبدِ الرحمنِ عوفِ بن مالكٍ رضي اللَّه عنه قال : صلَّى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَلى جَنَازَةٍ ، فَحَفِظْتُ مِنْ دُعائِهِ وَهُو يَقُولُ : « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، وارْحمْهُ ، وعافِهِ ، واعْفُ عنْهُ ، وَأَكرِمْ نزُلَهُ ، وَوسِّعْ مُدْخَلَهُ واغْسِلْهُ بِالماءِ والثَّلْجِ والْبرَدِ ، ونَقِّه منَ الخَـطَايَا، كما نَقَّيْتَ الثَّوب الأبْيَضَ منَ الدَّنَس ، وَأَبْدِلْهُ دارا خيراً مِنْ دَارِه ، وَأَهْلاً خَيّراً منْ أهْلِهِ، وزَوْجاً خَيْراً منْ زَوْجِهِ ، وأدْخِلْه الجنَّةَ ، وَأَعِذْه منْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّار » حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ أنَا ذلكَ المَيِّتَ . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Abdurrahman, yaitu Abdullah bin Ma'lik Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menshalati seorang mayit, dan aku hafal doa beliau, yaitu beliau membaca:
"Allahummaghfir lahu warhamhu, wa 'afihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bil ma'i wats tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadha minad danas, wa abdilhu daran khairan min darihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul jannata, wa a'idzhu min 'adzabil qabri wa min 'adzabin nar."
"Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, basuhlah dia dengan air, salju, dan es, bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran, gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari azab kubur dan azab neraka."
(Beliau membaca doa ini) hingga aku berharap andai aku adalah mayit itu.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tuntunan doa untuk jenazah yang sangat lengkap. Intinya adalah memohonkan ampunan, rahmat, pembersihan dosa, dan kemudahan bagi mayit di alam kubur serta akhirat. Doa ini juga mengandung permohonan agar Allah mengganti keadaan si mayit dengan yang lebih baik, dan memasukkannya ke dalam surga, menunjukkan betapa luasnya kasih sayang Islam kepada saudara seiman yang telah wafat.
"Allahummaghfir lahu warhamhu, wa 'afihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bil ma'i wats tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadha minad danas, wa abdilhu daran khairan min darihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul jannata, wa a'idzhu min 'adzabil qabri wa min 'adzabin nar."
"Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, basuhlah dia dengan air, salju, dan es, bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran, gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari azab kubur dan azab neraka."
(Beliau membaca doa ini) hingga aku berharap andai aku adalah mayit itu.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tuntunan doa untuk jenazah yang sangat lengkap. Intinya adalah memohonkan ampunan, rahmat, pembersihan dosa, dan kemudahan bagi mayit di alam kubur serta akhirat. Doa ini juga mengandung permohonan agar Allah mengganti keadaan si mayit dengan yang lebih baik, dan memasukkannya ke dalam surga, menunjukkan betapa luasnya kasih sayang Islam kepada saudara seiman yang telah wafat.
# 3
وعن أبي هُريرة وأبي قَتَادَةَ ، وأبي إبْرَاهيمَ الأشْهَليَّ عنْ أبيه ، وأبوه صَحَابيٌّ رضي اللَّه عنهم ، عَنِ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أنَّه صلَّى عَلى جَنَازَة فقال : « اللَّهم اغفر لِحَيِّنَا وَميِّتِنا ، وَصَغيرنا وَكَبيرِنَا ، وذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا ، وشَاهِدِنا وَغائِبنَا . اللَّهُمَّ منْ أَحْيَيْتَه منَّا فأَحْيِه على الإسْلامِ ، وَمَنْ توَفَّيْتَه منَّا فَتَوَفَّهُ عَلى الإيمانِ ، اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنا أَجْرَهُ ، وَلا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ » رواه الترمذي من رواية أبي هُرَيْرةَ والأشهَليِّ ، ورواه أبو داود من رواية أبي هريرة وأبي قَتَادَةَ . قال الحاكم : حديث أبي هريرة صَحيحٌ على شَرْطِ البُخاريِّ ومُسْلِمٍ ، قال الترْمِذي قال البخاريُّ : أَصحُّ رواياتِ هذا الحديث روايةُ الأَشْهَليِّ . قال البخاري : وَأَصَحُّ شيء في هذا الباب حديث عوْفِ بن مالكٍ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah, Abu Qatadah, dan Abu Ibrahim Al-Asy'ari, dari ayahnya (ayahnya adalah seorang sahabat), dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menshalati seorang mayit, dengan membaca:
"Allahummaghfir lihayyina wa mayyitina, wa shaghirina wa kabirina, wa dzakarina wa untsana, wa syahidina wa ghaibina. Allahumma man ahyaitahu minna fa ahyihi 'alal islam, wa man tawaffaitahu minna fatawaffahu 'alal iman. Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba'dahu."
"Ya Allah, ampunilah orang yang masih hidup dan yang telah mati di antara kami, yang kecil dan yang besar di antara kami, yang laki-laki dan yang perempuan di antara kami, yang hadir dan yang tidak hadir di antara kami. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah dia di atas Islam. Dan siapa yang Engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkanlah dia di atas iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya (pahala bersabar atas kehilangannya), dan janganlah Engkau uji kami dengan kesesatan setelah kematiannya."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)
Penjelasan singkat: Doa ini mengajarkan bahwa rahmat dan ampunan Allah bersifat universal, mencakup semua kaum muslimin tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau keadaan. Intinya, kita diajarkan untuk selalu mendoakan kebaikan dan keteguhan iman bagi seluruh umat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Doa ini juga mengandung sikap tawakal, memohon agar kita diberi ketabahan setelah musibah kematian dan tidak terhalang dari pahala bersabar.
"Allahummaghfir lihayyina wa mayyitina, wa shaghirina wa kabirina, wa dzakarina wa untsana, wa syahidina wa ghaibina. Allahumma man ahyaitahu minna fa ahyihi 'alal islam, wa man tawaffaitahu minna fatawaffahu 'alal iman. Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba'dahu."
"Ya Allah, ampunilah orang yang masih hidup dan yang telah mati di antara kami, yang kecil dan yang besar di antara kami, yang laki-laki dan yang perempuan di antara kami, yang hadir dan yang tidak hadir di antara kami. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah dia di atas Islam. Dan siapa yang Engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkanlah dia di atas iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya (pahala bersabar atas kehilangannya), dan janganlah Engkau uji kami dengan kesesatan setelah kematiannya."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)
Penjelasan singkat: Doa ini mengajarkan bahwa rahmat dan ampunan Allah bersifat universal, mencakup semua kaum muslimin tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau keadaan. Intinya, kita diajarkan untuk selalu mendoakan kebaikan dan keteguhan iman bagi seluruh umat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Doa ini juga mengandung sikap tawakal, memohon agar kita diberi ketabahan setelah musibah kematian dan tidak terhalang dari pahala bersabar.
# 4
وعن أبي هُريْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قال : سمعتُ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إذ صَلَّيْتُم عَلى المَيِّت ، فأَخْلِصُوا لهُ الدُّعاءَ » رواه أبوداود.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian menshalati mayit seseorang, maka berdoalah kepada Allah dengan ikhlas untuknya."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan esensi dari shalat jenazah, yaitu mendoakan kebaikan dan ampunan bagi si mayit dengan penuh keikhlasan dan konsentrasi. Perintah "ikhlas dalam doa" mengarahkan agar hati fokus hanya untuk memohonkan rahmat Allah kepada almarhum, bukan sekadar menjalankan ritual formal. Dengan demikian, shalat jenazah menjadi bentuk kepedulian dan hadiah terbaik dari orang hidup kepada saudaranya yang telah wafat.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan esensi dari shalat jenazah, yaitu mendoakan kebaikan dan ampunan bagi si mayit dengan penuh keikhlasan dan konsentrasi. Perintah "ikhlas dalam doa" mengarahkan agar hati fokus hanya untuk memohonkan rahmat Allah kepada almarhum, bukan sekadar menjalankan ritual formal. Dengan demikian, shalat jenazah menjadi bentuk kepedulian dan hadiah terbaik dari orang hidup kepada saudaranya yang telah wafat.
# 5
وعَنْهُ عَنِ النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في الصَّلاةِ عَلى الجَنَازَة : « اللَّهُمَّ أَنْت ربُّهَا ، وَأَنْتَ خَلَقْتَها، وأَنْتَ هَديْتَهَا للإسلامِ ، وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا ، وَأَنْتَ أَعْلمُ بِسِرِّها وَعَلانيتِها، جئْنَاكَ شُفعاءَ لَهُ فاغفِرْ لهُ » . رواه أبو داود
Terjemahan
Dari dia (Abu Dawud) رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ menshalatkan jenazah seseorang, beliau membaca:
"Ya Allah, Engkau adalah Rabbnya, Engkau yang menciptakannya, Engkau yang memberinya petunjuk kepada Islam, Engkau yang mencabut ruhnya, dan Engkau lebih mengetahui rahasia dan yang tampak darinya. Kami datang sebagai pemberi syafaat untuknya, maka ampunilah dia."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Doa ini mengajarkan bahwa dalam shalat jenazah, kita mengakui sepenuhnya kekuasaan dan ilmu Allah atas si mayit. Hikmahnya, kita memohon ampunan dengan mengedepankan sifat-sifat Allah sebagai Pencipta, Pemberi Hidayah, dan Yang Maha Mengetahui, bukan berdasarkan amal si mayit. Ini juga menunjukkan bentuk solidaritas sesama muslim, di mana orang hidup menjadi pemberi syafaat dengan memohonkan rahmat untuk yang telah wafat.
"Ya Allah, Engkau adalah Rabbnya, Engkau yang menciptakannya, Engkau yang memberinya petunjuk kepada Islam, Engkau yang mencabut ruhnya, dan Engkau lebih mengetahui rahasia dan yang tampak darinya. Kami datang sebagai pemberi syafaat untuknya, maka ampunilah dia."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Doa ini mengajarkan bahwa dalam shalat jenazah, kita mengakui sepenuhnya kekuasaan dan ilmu Allah atas si mayit. Hikmahnya, kita memohon ampunan dengan mengedepankan sifat-sifat Allah sebagai Pencipta, Pemberi Hidayah, dan Yang Maha Mengetahui, bukan berdasarkan amal si mayit. Ini juga menunjukkan bentuk solidaritas sesama muslim, di mana orang hidup menjadi pemberi syafaat dengan memohonkan rahmat untuk yang telah wafat.
# 6
وعن واثِلة بنِ الأسقعِ رضيَ اللَّه عنه قال : صَلَّى بِنَا رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَلى رجُلٍ مِنَ المُسْلِمينَ ، فسمعته يقولُ : « اللَّهُمَّ إنَّ فُلانَ ابْنَ فُلان في ذِمَّتِكَ وحَلَّ بجوارك، فَقِهِ فِتْنَةَ القَبْر ، وَعَذَابَ النَّارِ ، وَأَنْتَ أَهْلُ الوَفاءِ والحَمْدِ ، اللَّهُمَّ فاغفِرْ لهُ وَارْحَمْهُ ، إنكَ أَنْتَ الغَفُور الرَّحيمُ » رواه أبو داود .
Terjemahan
Dari Watsilah bin Al-Asqa' رضي الله عنه, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ ketika beliau menshalatkan jenazah seorang laki-laki dari kaum muslimin sebagai imam kami, beliau membaca:
"Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam jaminan-Mu dan perlindungan-Mu, maka lindungilah dia dari fitnah kubur dan azab neraka. Engkau adalah Dzat yang menepati janji dan terpuji. Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan doa khusus dalam shalat jenazah yang mencakup permohonan perlindungan dari dua ujian besar: fitnah kubur dan azab neraka. Doa ini menegaskan konsep perlindungan (jīwār) Allah kepada hamba-Nya yang telah wafat. Hikmahnya, kita diajarkan untuk memohon dengan menyebut nama Allah yang Maha Menepati Janji (Ahlu al-Wafā’), sebagai bentuk tawakal dan pengakuan bahwa hanya Allah tempat bersandar bagi orang hidup dan mati.
"Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam jaminan-Mu dan perlindungan-Mu, maka lindungilah dia dari fitnah kubur dan azab neraka. Engkau adalah Dzat yang menepati janji dan terpuji. Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan doa khusus dalam shalat jenazah yang mencakup permohonan perlindungan dari dua ujian besar: fitnah kubur dan azab neraka. Doa ini menegaskan konsep perlindungan (jīwār) Allah kepada hamba-Nya yang telah wafat. Hikmahnya, kita diajarkan untuk memohon dengan menyebut nama Allah yang Maha Menepati Janji (Ahlu al-Wafā’), sebagai bentuk tawakal dan pengakuan bahwa hanya Allah tempat bersandar bagi orang hidup dan mati.
# 7
وعن عبد اللَّه بنِ أبي أوْفى رضي اللَّه عنهما أَنَّهُ كبَّر على جَنَازَةِ ابْنَةٍ لَهُ أَرْبَعَ تَكْبِيراتٍ ، فَقَامَ بَعْدَ الرَّابِعَةِ كَقَدْرِ مَا بَيْنَ التَّكْبيرتيْن يَسْتَغفِرُ لهَا وَيَدْعُو ، ثُمَّ قال : كَانَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَصْنَعُ هكذَا وفي رواية : « كَبَّرَ أَرْبعاً فمكث سَاعةً حتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سيُكَبِّرُ خَمْساً ، ثُمَّ سلَّمَ عنْ يمِينهِ وَعَنْ شِمالِهِ ، فَلَمَّا انْصَرَف قُلْنا لَهُ : مَا هذا ؟ فقال : إنِّي لا أزيدُكُمْ عَلى مَا رَأَيْتُ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَصْنَعُ ، أوْ : هكذا صَنعَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . رواه الحاكم وقال : حديث صحيح .
Terjemahan
Abdullah bin Abu Aufa رضي الله عنهما menshalatkan jenazah putrinya dengan empat takbir. Setelah takbir keempat, beliau berdiri sejenak kira-kira antara satu takbir dengan takbir berikutnya, sambil memohon ampun dan berdoa untuk putrinya. Kemudian beliau berkata: "Rasulullah ﷺ pernah melakukan seperti ini."
Dalam riwayat lain: Beliau bertakbir empat kali, lalu diam sebentar sampai aku mengira beliau akan bertakbir kelima. Namun kemudian beliau memberi salam ke kanan dan ke kiri. Setelah selesai shalat, aku bertanya kepadanya: "Mengapa engkau melakukan itu?" Beliau menjawab: "Sungguh, aku tidak menambah dalam shalat bersama kalian sesuatu yang tidak aku lihat Rasulullah ﷺ lakukan," atau beliau berkata: "Seperti itulah Rasulullah ﷺ melakukannya."
(Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan dia berkata: Hadits ini sahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara salat jenazah yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yaitu dengan empat takbir. Di antara takbir-takbir tersebut, disyariatkan untuk berdoa dan memohonkan ampun bagi mayit. Diam sejenak setelah takbir keempat sebelum salam adalah bagian dari sunnah, yang menunjukkan pentingnya mendoakan jenazah dengan sungguh-sungguh sebelum mengakhiri salat.
Dalam riwayat lain: Beliau bertakbir empat kali, lalu diam sebentar sampai aku mengira beliau akan bertakbir kelima. Namun kemudian beliau memberi salam ke kanan dan ke kiri. Setelah selesai shalat, aku bertanya kepadanya: "Mengapa engkau melakukan itu?" Beliau menjawab: "Sungguh, aku tidak menambah dalam shalat bersama kalian sesuatu yang tidak aku lihat Rasulullah ﷺ lakukan," atau beliau berkata: "Seperti itulah Rasulullah ﷺ melakukannya."
(Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan dia berkata: Hadits ini sahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara salat jenazah yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yaitu dengan empat takbir. Di antara takbir-takbir tersebut, disyariatkan untuk berdoa dan memohonkan ampun bagi mayit. Diam sejenak setelah takbir keempat sebelum salam adalah bagian dari sunnah, yang menunjukkan pentingnya mendoakan jenazah dengan sungguh-sungguh sebelum mengakhiri salat.