Kitab 18 · Bab 6
Mencela Orang yang Bermuka Dua
✦ 3 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا﴾[سورة النساء(108)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Mereka bersembunyi dari manusia, dan tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Dia bersama mereka (Dia Mengetahui, Dia Mendengar) ketika mereka mengucapkan perkataan yang tidak diridhai-Nya pada malam hari. Allah Maha Mengetahui segala apa yang mereka kerjakan."
(An-Nisa': 108)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang terang-terangan maupun yang disembunyikan. Pelajaran utamanya adalah keharusan untuk memiliki rasa muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah) dalam setiap keadaan, karena manusia boleh saja bersembunyi dari sesamanya, tetapi tidak mungkin menyembunyikan niat dan perbuatan dari Allah. Hal ini mengajak kita untuk selalu menjaga lisan dan perbuatan, meskipun sendirian di malam hari.
(An-Nisa': 108)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang terang-terangan maupun yang disembunyikan. Pelajaran utamanya adalah keharusan untuk memiliki rasa muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah) dalam setiap keadaan, karena manusia boleh saja bersembunyi dari sesamanya, tetapi tidak mungkin menyembunyikan niat dan perbuatan dari Allah. Hal ini mengajak kita untuk selalu menjaga lisan dan perbuatan, meskipun sendirian di malam hari.
# 2
وعن أبي هُريرةَ رضي اللَّه عَنْهُ قالَ : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « تَجدُونَ النَّاسَ معادِنَ : خِيارُهُم في الجاهِليَّةِ خيارُهُم في الإسْلامِ إذا فَقُهُوا ، وتجدُونَ خِيارَ النَّاسِ في هذا الشَّأنِ أشدَّهُمْ لهُ كَراهِيةً ، وتَجدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذا الوجْهيْنِ ، الذي يأتي هؤلاءِ بِوجْهِ وَهؤلاءِ بِوَجْهِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia itu seperti tambang (karakter aslinya). Yang terbaik di antara mereka pada masa Jahiliyah adalah yang terbaik di masa Islam, jika dia memahami agama. Orang yang terbaik dalam memimpin adalah orang yang tidak menyukainya (tidak ambisius). Orang yang terburuk adalah orang bermuka dua, yaitu yang mendatangi kelompok ini dengan satu wajah dan mendatangi kelompok itu dengan wajah yang lain."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan bahwa karakter baik seseorang akan tetap baik setelah masuk Islam jika disertai pemahaman agama. Kepemimpinan terbaik dipegang oleh orang yang tidak tamak akan jabatan. Sifat paling buruk adalah munafik, yaitu bermuka dua dan tidak konsisten.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga prinsip utama. Pertama, karakter baik seseorang bersifat konsisten, baik sebelum maupun sesudah masuk Islam. Kedua, pemimpin terbaik adalah yang tidak ambisius dan merasa berat memikul amanah. Ketiga, sifat tercela adalah munafik (bermuka dua), yang berbeda perkataan dan perbuatan di hadapan orang lain.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan bahwa karakter baik seseorang akan tetap baik setelah masuk Islam jika disertai pemahaman agama. Kepemimpinan terbaik dipegang oleh orang yang tidak tamak akan jabatan. Sifat paling buruk adalah munafik, yaitu bermuka dua dan tidak konsisten.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga prinsip utama. Pertama, karakter baik seseorang bersifat konsisten, baik sebelum maupun sesudah masuk Islam. Kedua, pemimpin terbaik adalah yang tidak ambisius dan merasa berat memikul amanah. Ketiga, sifat tercela adalah munafik (bermuka dua), yang berbeda perkataan dan perbuatan di hadapan orang lain.
# 3
وعنْ محمدِ بن زَيْدٍ أنَّ نَاسًا قَالُوا لجَدِّهِ عبدِ اللَّه بنِ عُمْرو رضي اللَّه عنْهما : إنَّا نَدْخُلُ عَلَى سَلاطِيننا فنقولُ لهُمْ بِخلافِ ما نتكلَّمُ إذَا خَرَجْنَا مِنْ عِندِهِمْ قال : كُنًا نعُدُّ هذا نِفَاقاً عَلى عَهْدِ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Muhammad bin Zaid radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ada seseorang yang berkata kepada kakeknya, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, "Sungguh, kami menemui penguasa kami, lalu kami berbicara kepada mereka berbeda dengan apa yang kami katakan saat keluar dari mereka." Ia (Ibnu Umar) menjawab, "Pada masa Rasulullah ﷺ, kami menganggap perbuatan itu sebagai kemunafikan."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sikap bermuka dua, khususnya dalam berbicara kepada penguasa, merupakan ciri kemunafikan. Intinya, kejujuran dan konsistensi antara ucapan di hadapan penguasa dan di belakangnya adalah prinsip Islam. Hadis ini mengajarkan untuk menjaga integritas dan menghindari sikap penjilat, meskipun dalam situasi yang berpotensi membahayakan.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sikap bermuka dua, khususnya dalam berbicara kepada penguasa, merupakan ciri kemunafikan. Intinya, kejujuran dan konsistensi antara ucapan di hadapan penguasa dan di belakangnya adalah prinsip Islam. Hadis ini mengajarkan untuk menjaga integritas dan menghindari sikap penjilat, meskipun dalam situasi yang berpotensi membahayakan.