✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Hal-Hal yang Dilarang
Kitab 18 · Bab 7

Larangan Berdusta

✦ 7 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ ﴾[سورة الإسراء(36)]
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti (mengucapkan, membenarkan, atau melakukan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." [Surat Al-Isra' (17): 36]

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan larangan keras untuk bersikap gegabah dalam perkataan, keyakinan, atau perbuatan tanpa dasar ilmu yang sahih. Perintah ini mencakup semua aspek, termasuk menyebarkan kabar, berfatwa, atau menghukumi sesuatu tanpa pengetahuan. Setiap indera dan hati yang Allah karuniakan akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana digunakan, sehingga mendorong seorang muslim untuk selalu berhati-hati, verifikasi, dan hanya berbicara berdasarkan ilmu.

# 2
وقال تعالى: ﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾[سورة ق(18)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Setiap perkataan yang diucapkan, pasti ada pengawas yang mencatatnya."
(Qaf: 18)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia, baik atau buruk, dicatat oleh malaikat yang selalu hadir. Ini menjadi dasar tanggung jawab atas segala perkataan. Hikmahnya adalah agar kita senantiasa menjaga lisan, berkata jujur dan bermanfaat, serta menghindari ghibah, dusta, dan ucapan sia-sia, karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

# 3
وعنْ ابنِ مسعود رضي اللَّه عنْهُ قال : قالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنًَّ الصِّدْقَ يهْدِي إلى الْبِرِّ وَإنَّ البرِّ يهْدِي إلى الجنَّةِ ، وإنَّ الرَّجُل ليَصْدُقُ حتَّى يُكتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدّيقاً، وإنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إلى الفُجُورِ وإنَّ الفُجُورَ يهْدِي إلى النارِ ، وإن الرجلَ ليكذبَ حَتى يُكْتبَ عنْدَ اللَّهِ كَذَّاباً » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang terus berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang yang terus berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan dampak besar dari kejujuran dan kedustaan. Kejujuran adalah jalan menuju semua kebaikan dan akhirnya surga, sementara dusta adalah pangkal segala kejahatan dan mengantarkan ke neraka. Konsistensi dalam salah satunya akan menjadi sifat yang melekat pada pelakunya di catatan Allah.

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan dampak besar dari kejujuran dan kedustaan sebagai pangkal menuju akhir yang abadi. Kejujuran adalah fondasi yang mengantarkan pada amal kebajikan (al-birr) dan akhirnya ke surga. Sebaliknya, dusta adalah bibit yang menyeret pada perbuatan keji (al-fujur) dan berujung pada neraka. Konsistensi dalam salah satunya akan membentuk identitas kekal di sisi Allah, sebagai seorang yang sangat jujur (shiddiq) atau pendusta berat (kadzdzab).

# 4
وعن عبدِ اللَّهِ بنِ عَمْرو بنِ العاص رضي اللَّه عنْهُما ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «أَرْبعٌ منْ كُنَّ فِيهِ ، كان مُنافِقاً خالِصاً ، ومنْ كَانتْ فيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ ، كَانتْ فِيهِ خَصْلةٌ مِنْ نِفاقٍ حتَّى يَدعَهَا : إذا اؤتُمِنَ خَانَ ، وَإذا حدَّثَ كَذَبَ ، وإذا عاهَدَ غَدَرَ ، وإذا خَاصمَ فجَرَ » متفقٌ عليه . وقد سبقَ بيانه مع حديثِ أبي هُرَيْرَةَ بنحوهِ في « باب الوفاءِ بالعهد » .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada empat sifat, barangsiapa memilikinya maka dia adalah munafik sejati. Dan barangsiapa memiliki salah satu dari sifat-sifat tersebut, maka dia memiliki satu sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya, yaitu: (1) Jika dipercaya, dia berkhianat, (2) Jika berbicara, dia dusta, (3) Jika berjanji, dia ingkar, dan (4) Jika bertengkar, dia melampaui batas (dengan mencaci)."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan ciri-ciri orang munafik. Memiliki keempatnya adalah tanda munafik sejati. Memiliki salah satunya berarti memiliki bagian dari kemunafikan yang harus segera ditinggalkan.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan ciri-ciri kemunafikan dalam amal perbuatan. Empat sifat buruk itu adalah khianat terhadap amanah, berdusta dalam perkataan, mengingkari janji, dan berbuat curang saat berselisih. Memiliki salah satu sifat saja sudah berarti terdapat noda kemunafikan dalam diri seseorang, hingga ia meninggalkannya. Intinya, keimanan harus dibuktikan dengan menjaga integritas, kejujuran, dan menepati komitmen dalam interaksi sosial.

# 5
وعن ابن عباسٍ رضي اللَّه عنْهُما عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قالَ : « مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لمْ يرَهُ ، كُلِّفَ أنْ يَعْقِدَ بيْن شَعِيرتينِ ، ولَنْ يفْعَلَ ، ومِنِ اسْتَمَع إلى حديثِ قَوْم وهُمْ لهُ كارِهُونَ، صُبَّ في أُذُنَيْهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيامَةِ ، ومَنْ صوَّر صُورةً ، عُذِّبَ وَكُلِّفَ أنْ ينفُخَ فيها الرُّوحَ وَليْس بِنافخٍ » رواه البخاري . « تَحلَّم » أي : قالَ أنهُ حَلم في نَوْمِهِ ورَأى كَذا وكَذا ، وهو كاذبٌ و « الآنك » بالمدِّ وضمِّ النونِ وتخفيفِ الكاف : وهو الرَّصَاصُ المذابُ .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Barangsiapa mengaku-aku bermimpi (padahal tidak), dia akan disuruh mengikat sebutir gandum, dan dia tidak akan mampu melakukannya. Dan barangsiapa menyimak pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak menyukainya, maka akan dituangkan timah cair ke telinganya pada hari kiamat. Dan barangsiapa membuat gambar (makhluk bernyawa), dia akan disiksa dan disuruh untuk meniupkan ruh ke dalamnya, dan dia tidak akan mampu."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
"Tahallum" artinya: Dia mengatakan bahwa dia bermimpi dalam tidurnya dan melihat ini-itu, padahal dia dusta. Dan "Al-Anuk" dengan memanjangkan 'alif', mendhammahkan nun, dan meringankan kaf: yaitu timah yang dicairkan.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kejujuran, menghormati privasi, dan menghindari kesyirikan. Larangan mengaku-aku mimpi palsu mengajarkan integritas ucapan. Larangan menyimak pembicaraan orang yang tidak menghendakinya mengajarkan adab menjaga hak dan rahasia orang lain. Sementara, larangan membuat gambar makhluk bernyawa adalah peringatan keras agar tidak menyaingi kekuasaan Allah dalam penciptaan.

# 6
وعن ابنِ عُمرَ رضي اللَّه عنْهُما قالَ : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أفْرَى الفِرَى أنْ يُرِيَ الرجُلُ عيْنَيْهِ ما لَمْ تَرَيا » . رواهُ البخاري . ومعناه : يقولُ : رأيتُ فيما لم يره .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Dusta yang paling besar adalah seseorang menampakkan kepada kedua matanya apa yang tidak dilihatnya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari). Maknanya: Dia mengatakan, "Aku melihat" padahal dia tidak melihat.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa dusta dalam kesaksian atau pengakuan tentang sesuatu yang dilihat adalah kedustaan yang sangat besar (afrâ al-firâ). Inti pelajarannya adalah keharusan menjaga integritas indra penglihatan dan lisan dari kebohongan, karena hal itu merupakan fondasi kepercayaan dalam masyarakat. Hikmahnya, kita diperingatkan untuk selalu jujur dalam setiap ucapan, khususnya saat menyampaikan kesaksian, dan tidak mengklaim telah menyaksikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

# 7
وعن سَمُرَةَ بنِ جُنْدُبٍ رضي اللَّه عَنْهُ قالَ : كانَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِما يُكْثِرُ أنْ يقولَ لأصحابهِ : « هَلْ رَأَى أحدٌّ مِنكُمْ مِن رؤيا؟» فيقُصُّ عليهِ منْ شَاءَ اللَّه أنْ يقُصَّ . وَإنَّهُ قال لنا ذات غَدَاةٍ : « إنَّهُ أتَاني اللَّيْلَةَ آتيانِ ، وإنَّهُما قالا لي : انطَلقْ ، وإنِّي انْطلَقْتُ معهُما ، وإنَّا أتَيْنَا عَلى رجُلٍ مُضْطَجِعٌ ، وإِذَا آَخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ ، وإِذَا هُوَ يَهْوي بالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ ، فَيثْلَغُ رَأْسهُ ، فَيَتَدَهْدهُُ الحَجَرُ هَاهُنَا . فيتبعُ الحَجَرَ فيأْخُـذُهُ ، فلا يَرجِعُ إلَيْه حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كما كان ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ ، فَيفْعلُ بهِ مِثْلَ ما فَعَل المَرَّةَ الأولى،» قال : قلتُ لهما : سُبْحانَ اللَّهِ ، ما هذانِ ؟ قالا لي : انْطَلِقْ انْطَلِقْ، فانْطَلَقْنا. فأَتيْنَا عَلى رَجُل مُسْتَلْقٍ لقَفَاه وَإذا آخَرُ قائمٌ عليهِ بكَلُّوبٍ مِنْ حَديدٍ ، وإذا هُوَ يَأْتى أحَد شِقَّيْ وَجْهِهِ فيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إلى قَفاهُ ، ومنْخِرهُ إلى قَفَاهُ ، وَعينَهُ إلى قَفاهُ ، ثُمَّ يتَحوَّل إلى الجانبِ الآخرِ فَيَفْعَل بهِ مثْلَ ما فعلًَ بالجانب الأول ، فَما يَفْرُغُ مِنْ ذلكَ الجانب حتَّى يصِحَّ ذلكَ الجانِبُ كما كانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عليْهِ ، فَيَفْعَل مِثْلَ ما فَعلَ في المَرَّةِ الأولى . قال : قلتُ: سُبْحَانَ اللَّه ، ما هذان ؟ قالا لي : انْطلِقْ انْطَلِقْ ، فَانْطَلَقْنَا . فَأتَيْنا عَلى مِثْل التَّنُّورِ فَأَحْسِبُ أنهُ قال : فإذا فيهِ لَغَطٌ ، وأصْواتٌ ، فَاطَّلَعْنا فيهِ فَإِذَا فِيهِ رجالٌ ونِساء عُرَاةٌ ، وإذا هُمْ يأتِيهمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفلِ مِنْهُمْ ، فإذا أتَاهُمْ ذلكَ اللَّهَبُ ضَوْضَؤُوا ، قلتُ ما هؤلاءِ ؟ قالا لي : انْطَلِقْ انْطَلِقْ ،فَانْطَلقْنَا. فَأَتيْنَا على نهرٍ حسِبْتُ أَنهُ كانَ يقُولُ : « أَحْمرُ مِثْلُ الدًَّمِ ، وإذا في النَّهْرِ رَجُلٌ سابِحٌ يَسْبحُ ، وَإذا على شَطِّ النَّهْرِ رجُلٌ قَد جَمَعَ عِندَهُ حِجارةً كَثِيرَة ، وإذا ذلكَ السَّابِحُ يسبح ما يَسْبَحُ، ثُمَّ يَأتيْ ذلكَ الذي قَدْ جمَعَ عِنْدهُ الحِجارةًَ ، فَيَفْغَرُ لهَ فاهُ ، فَيُلْقِمُهُ حجراً ، فَيَنْطَلِقُ فَيَسْبَحُ ، ثُمًَّ يَرْجِعُ إليهِ ، كُلَّمَا رجع إليْهِ ، فَغَر فاهُ لهُ ، فَألْقمهُ حَجَراً ، قلت لهما : ما هذانِ ؟ قالا لي : انْطلِقْ انطلِق ، فانْطَلَقنا . فَأَتَيْنَا على رَجُلٍ كرِيِه المَرْآةِ ، أوْ كأَكرَهِ ما أنت رَاءٍ رجُلاً مَرْأَى ، فإذا هو عِندَه نارٌ يحشُّها وَيسْعى حَوْلَهَا ، قلتُ لهما : ما هذا ؟ قالا لي : انْطَلِقْ انْطلِقْ ، فَانْطَلقنا . فَأتَينا على روْضةٍ مُعْتَمَّةٍ فِيها مِنْ كلِّ نَوْرِ الرَّبيعِ ، وإذا بيْنَ ظهْرِي الرَّوضَةِ رَجلٌ طويلٌ لا أكادُ أرى رأسَهُ طُولاً في السَّماءِ ، وإذا حوْلَ الرجلِ منْ أكثر ولدان ما رَأَيْتُهُمْ قطُّ ، قُلتُ: ما هذا ؟ وما هؤلاءِ ؟ قالا لي : انطَلقْ انْطَلِقْ فَاَنْطَلقنا . فَأتيْنَا إلى دَوْحةٍ عظِيمَة لَمْ أر دَوْحةً قطُّ أعظمَ مِنها ، ولا أحْسنَ ، قالا لي : ارْقَ فيها، فَارتَقينا فيها ، إلى مدِينةٍ مَبْنِيَّةٍ بِلَبِنٍ ذَهبٍ ولبنٍ فضَّةٍ ، فأتَينَا باب المَدينة فَاسْتفتَحْنَا، فَفُتحَ لَنا، فَدَخَلناهَا ، فَتَلَقَّانَا رجالٌ شَطْرٌ مِن خَلْقِهِم كأحْسنِ ما أنت راءٍ ، وشَطرٌ مِنهم كأَقْبحِ ما أنتَ راءِ ، قالا لهم : اذهبوا فقَعُوا في ذلك النًّهْر ، وإذا هُوَ نَهرٌ معتَرِضٌ يجْرِي كأن ماءَهُ المحضُ في البياض ، فذَهبُوا فوقعُوا فيه ، ثُمَّ رجعُوا إلينا قد ذَهَب ذلكَ السُّوءُ عَنهمْ ، فَصارُوا في أحسن صُورةٍ .قال : قالا لي : هذه جَنَّةُ عدْن ، وهذاك منزلُكَ ، فسمَا بصَرِي صُعداً ، فإذا قصر مِثلُ الرَّبابة البيضاءِ . قالا لي : هذاك منزِلُكَ . قلتُ لهما : بارك اللَّه فيكُما، فَذراني فأدخُلْه . قالا : أما الآن فلا ، وأنتَ داخلُهُ . قلت لهُما : فَإنِّي رأَيتُ مُنْذُ اللَّيلة عجباً ؟ فما هذا الذي رأيت ؟ قالا لي : إنَا سَنخبِرُك. أمَّا الرجُلُ الأوَّلُ الذي أتَيتَ عَليه يُثلَغُ رأسُهُ بالحَجَرِ ، فإنَّهُ الرَّجُلُ يأخُذُ القُرْآنَ فيرفُضُه ، وينامُ عن الصَّلاةِ الكتُوبةِ . وأمَّا الذي أتَيتَ عَليْهِ يُشرْشرُ شِدْقُه إلى قَفاهُ ، ومَنْخِرُه إلى قَفاهُ ، وعَيْنهُ إلى قفاهُ ، فإنه الرَّجُلُ يَغْدو مِنْ بَيْتِه فَيكذبُ الكذبةَ تبلُغُ الآفاقَ . وأمَّا الرِّجالُ والنِّساءُ العُراةُ الذين هُمْ في مِثل بِناءِ التَّنُّورِ ، فإنَّهم الزُّناةُ والزَّواني . وأما الرجُلُ الَّذي أتَيْت عليْهِ يسْبَحُ في النَهْرِ ، ويلْقمُ الحِجارة ، فإنَّهُ آكِلُ الرِّبا. وأمَّا الرَّجُلُ الكَريهُ المَرآةِ الذي عندَ النَّارِ يَحُشُّها ويسْعى حَوْلَها فإنَّهُ مالِكُ خازنُ جَهنَّمَ. وأما الرَّجُلُ الطَّويلُ الَّذي في الرَّوْضةِ ، فإنه إبراهيم ، وأما الوِلدانُ الذينَ حوْله ، فكلُّ مُوْلود ماتَ على الفِطْرَةِ » وفي رواية البَرْقَانِي : « وُلِد على الفِطْرَةِ » . فقال بعض المسلمينَ : يا رسول اللَّه ، وأولادُ المشرِكينَ ؟ فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «وأولادُ المشركينَ » . وأما القوم الذين كانوا شطر منهم حسن وشطر منهم قبيح فإنهم قوم خلطوا عملاً صالحاً وآخر سيئاً تجاوز الله عنهم . رواه البخاري . وفي رواية له : « رأيتُ اللَّيلَةَ رجُلَين أتَياني فأخْرجاني إلى أرْضِ مُقدَّسةِ » ثم ذكَره . وقال : « فانطَلَقْنَا إلى نَقبٍ مثل التنُّورِ ، أعْلاهُ ضَيِّقٌ وأسْفَلُهُ وَاسعٌ ، يَتَوَقَّدُ تَحتهُ ناراً، فإذا ارتَفَعت ارْتَفَعُوا حَتى كادُوا أنْ يَخْرُجوا ، وإذا خَمَدت ، رَجَعوا فيها ، وفيها رجالٌ ونساء عراةٌ . وفيها : حتى أتَينَا على نَهرٍ من دًَم ، ولم يشك ¬ فيه رجُلٌ قائمٌ على وسط النًَّهرِ ، وعلى شطِّ النَّهر رجُلٌ ، وبيْنَ يديهِ حجارةٌ ، فأقبل الرَّجُلُ الذي في النَّهرِ ، فَإذا أراد أنْ يخْرُجَ ، رمَى الرَّجُلُ بِحجرٍ في فِيه ، فردَّهُ حيْثُ كانَ ، فجعلَ كُلَّمَا جاءَ ليخْرج جَعَلَ يَرْمي في فيه بحجرٍ ، فيرْجِعُ كما كانَ .وفيهَا : « فصعدا بي الشَّجَرةَ ، فَأدْخلاني داراً لَمْ أر قَطُّ أحْسنَ منْهَا ، فيها رجالٌ شُيُوخٌ وَشَباب » . وفِيهَا : « الَّذي رأيْتهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فكَذَّابٌ ، يُحدِّثُ بالْكذبةِ فَتُحْملُ عنْهَ حتَّى تَبْلُغَ الآفاق، فيصْنَعُ بهِ ما رأيْتَ إلى يوْم الْقِيامةِ » . وفيها : « الَّذي رأيْتهُ يُشْدَخُ رأسُهُ فرجُلُ علَّمهُ اللَّه الْقُرآنَ ، فنام عنهُ بِاللَّيْلِ ، ولَمْ يعْملْ فيه بِالنَّهَارِ ، فيُفْعلُ بِه إلى يوم الْقِيامةِ » . والدَّارُ الأولى التي دخَلْتَ دارُ عامَّةِ المُؤمنينَ ، وأمَّا هذه الدَّارُ فدَارُ الشُّهَداءِ ، وأنا جِبْريلُ ، وهذا مِيكائيلُ ، فارْفع رأسَك ، فرفعتُ رأْسي ، فإذا فوقي مِثلُ السَّحابِ ، قالا: ذاكَ منزلُكَ ، قلتُ : دَعاني أدْخُلْ منزلي ، قالا : إنَّهُ بَقي لَكَ عُمُرٌ لَم تَستكمِلْهُ ، فلَوْ اسْتَكْملته ، أتيت منْزِلَكَ » رواه البخاري . قوله : « يَثْلَغ رَأْسهُ » وهو يالثاءِ المثلثة والغينِ المعجمة ، أي : يشدخُهُ ويَشُقُّه . قوله: « يَتَدهْده » أي : يتدحرجُ ، و « الكَلُّوبُ » بفتح الكاف ، وضم اللام المشددة ، وهو معروف . قوله : « فيُشَرشِرُ » أي : يُقَطَّعُ . قوله : « ضوْضَوؤوا » وهو بضادين معجمتين ، أي صاحوا . قوله : « فيفْغَرُ » هو بالفاءِ والغين المعجمة ، أي : يفتحُ . قوله: « المرآةِ » هو بفتح الميم ، أي : المنْظَر . قوله : « يحُشُّها » هو بفتح الياء وضم الحاءِ المهملة والشين المعجمة ، أي : يوقدها ، قوله : « روْضَةٍ مُعْتَمَّةِ » هو بضم الميم وإسكان العين وفتح التاء وتشديد الميم ، أي : وافيةِ النَّبات طويلَته . قَولُهُ : « دوْحَةٌ » وهي بفتح الدال ، وإسكان الواو وبالحاءِ المهملة : وهِي الشَّجرَةُ الْكبيرةُ ، قولُهُ : «المَحْضُ » هو بفتح الميم وإسكان الحاءِ المهملة وبالضَّاد المعجمة : وهُوَ اللَّبَنُ . قولُهُ : «فَسَما بصرِي » أي : ارْتَفَعَ . « وَصُعُداً » : بضم الصاد والعين : أيْ : مُرْتَفِعاً . «وَالرَّبابةُ » : بفتح الراءِ وبالباءِ الموحدة مُكررة ، وهي السَّحابة .
Terjemahan
Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ biasanya bertanya kepada para sahabatnya: "Apakah ada di antara kalian yang bermimpi?" Lalu mereka menceritakan mimpi mereka kepada beliau. Suatu pagi, beliau bersabda kepada kami: "Tadi malam ada dua orang mendatangiku, lalu berkata kepadaku, 'Berangkatlah!' Maka aku pun berangkat bersama mereka... (berlanjut tentang penglihatan dalam mimpi beliau mengenai berbagai bentuk hukuman di alam kubur, seperti orang yang kepalanya dihancurkan batu karena meninggalkan shalat, orang yang mulut dan wajahnya disobek karena berdusta dan menyebarkan fitnah, serta orang yang berenang dalam sungai darah dan memakan batu karena memakan harta riba)."
(Hadis panjang tentang mimpi Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, diterjemahkan secara ringkas untuk fokus pada inti cerita).

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan pentingnya mimpi dalam Islam dan perhatian Nabi ﷺ terhadap keadaan spiritual para sahabat. Mimpi yang benar (ar-ru’ya) dapat menjadi bagian dari wahyu atau nasihat. Kisah penglihatan Nabi tentang hukuman di alam kubur yang disebutkan setelahnya menjadi peringatan keras tentang konsekuensi dosa dan keadilan Allah di akhirat.