Kitab 18 · Bab 20
Larangan meremehkan seorang Muslim
✦ 5 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾[سورة الحجرات(11)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kalian saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat: 11)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan adab mulia dalam pergaulan sosial bagi orang beriman. Larangan utama adalah merendahkan orang lain, baik melalui sikap mengejek, mencela, maupun memanggil dengan gelar buruk. Hikmahnya, kita dilarang merasa lebih baik karena boleh jadi yang direndahkan lebih mulia di sisi Allah. Perilaku tersebut merupakan bentuk kezaliman dan bertentangan dengan nilai iman.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan adab mulia dalam pergaulan sosial bagi orang beriman. Larangan utama adalah merendahkan orang lain, baik melalui sikap mengejek, mencela, maupun memanggil dengan gelar buruk. Hikmahnya, kita dilarang merasa lebih baik karena boleh jadi yang direndahkan lebih mulia di sisi Allah. Perilaku tersebut merupakan bentuk kezaliman dan bertentangan dengan nilai iman.
# 2
وقال تعالى: ﴿ وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ﴾[سورة الهمزة(1)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela." (QS. Al-Humazah: 1)
Penjelasan singkat: Ayat ini memberikan peringatan keras tentang dosa lisan, khususnya sifat suka mencela dan merendahkan orang lain (al-humazah wal lumazah). Inti pelajarannya adalah larangan untuk mengumpat, mencela, atau menghina sesama, baik dengan kata-kata, isyarat, maupun sikap. Perbuatan ini merusak kehormatan orang lain dan termasuk dosa besar yang diancam dengan kecelakaan (wail). Hikmahnya, seorang muslim harus menjaga lisannya dan menghormati harga diri setiap manusia.
Penjelasan singkat: Ayat ini memberikan peringatan keras tentang dosa lisan, khususnya sifat suka mencela dan merendahkan orang lain (al-humazah wal lumazah). Inti pelajarannya adalah larangan untuk mengumpat, mencela, atau menghina sesama, baik dengan kata-kata, isyarat, maupun sikap. Perbuatan ini merusak kehormatan orang lain dan termasuk dosa besar yang diancam dengan kecelakaan (wail). Hikmahnya, seorang muslim harus menjaga lisannya dan menghormati harga diri setiap manusia.
# 3
وعنْ أبي هُرَيرة رضي اللَّه عَنْهُ أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ « بِحَسْبِ امْرِيءٍ مِنَ الشَّرِّ أن يحْقِرَ أخَاهُ المُسْلِمَ » رواه مسلم ، وقد سبق قرِيباً بطوله .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah suatu kejahatan bagi seseorang, ia meremehkan saudaranya yang muslim." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Meremehkan atau memandang rendah sesama muslim adalah dosa besar yang merusak persaudaraan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa merendahkan atau menghina saudara sesama Muslim merupakan kejahatan yang serius. Cukup perbuatan hina tersebut untuk digolongkan sebagai suatu keburukan yang membahayakan. Hikmahnya adalah larangan keras atas segala bentuk sikap sombong dan meremehkan orang lain, karena hal itu merusak persaudaraan (ukhuwah) dan kesatuan umat.
Penjelasan: Meremehkan atau memandang rendah sesama muslim adalah dosa besar yang merusak persaudaraan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa merendahkan atau menghina saudara sesama Muslim merupakan kejahatan yang serius. Cukup perbuatan hina tersebut untuk digolongkan sebagai suatu keburukan yang membahayakan. Hikmahnya adalah larangan keras atas segala bentuk sikap sombong dan meremehkan orang lain, karena hal itu merusak persaudaraan (ukhuwah) dan kesatuan umat.
# 4
وعَن ابْنِ مسعُودٍ رضي اللَّه عنهُ ، عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ منْ كَانَ في قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ، » فَقَالَ رَجُلٌ : إنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسناً ، ونَعْلُهُ حَسَنَةً ، فقال : « إنَّ اللَّه جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَال ، الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ ، وغَمْطُ النَّاسِ » رواه مسلم .
وَمَعْنَى « بطر الحَقِّ » : دَفْعه ، « وغَمْطُهُم » : احْتِقَارهُمْ ، وقَدْ سَبَقَ بيانُهُ أوْضَح مِنْ هَذا في باب الكِبرِ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus (apakah itu termasuk sombong)?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Makna "menolak kebenaran" adalah menentangnya, dan "merendahkan mereka" adalah menghina mereka. Penjelasannya yang lebih jelas telah disebutkan sebelumnya dalam bab tentang kesombongan.
Penjelasan singkat: Hadis ini membedakan antara kesombongan (kibr) dan kecintaan pada keindahan. Inti kesombongan bukanlah pada penampilan lahiriah, tetapi pada sikap hati yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Allah justru mencintai keindahan. Pelajaran utamanya adalah larangan keras terhadap kesombongan hati, karena dapat menghalangi seseorang dari surga.
Makna "menolak kebenaran" adalah menentangnya, dan "merendahkan mereka" adalah menghina mereka. Penjelasannya yang lebih jelas telah disebutkan sebelumnya dalam bab tentang kesombongan.
Penjelasan singkat: Hadis ini membedakan antara kesombongan (kibr) dan kecintaan pada keindahan. Inti kesombongan bukanlah pada penampilan lahiriah, tetapi pada sikap hati yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Allah justru mencintai keindahan. Pelajaran utamanya adalah larangan keras terhadap kesombongan hati, karena dapat menghalangi seseorang dari surga.
# 5
وعن جُنْدُبِ بن عبدِ اللَّه رضي اللَّه عنهُ قالَ : قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قالَ رَجُلٌ : واللَّهِ لا يَغْفِرُ اللَّه لفُلانٍ ، فَقَالَ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ : مَنْ ذا الَّذِي يَتَأَلَّى عليَّ أنْ لا أغفِرَ لفُلانٍ إنِّي قَد غَفَرْتُ لَهُ ، وًَأَحْبَطْتُ عمَلَكَ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang laki-laki berkata, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.' Maka Allah berfirman: 'Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sungguh, Aku telah mengampuninya dan Aku hapuskan (pahala) amalmu.'" (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung peringatan keras tentang larangan merasa tahu dan memastikan ketetapan Allah, khususnya dalam hal pengampunan. Seseorang yang bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni orang lain telah melakukan dosa besar, yaitu "yata'alla" (bersumpah untuk membatasi rahmat Allah). Hikmahnya, Allah membatalkan pahala amal pelaku sebagai hukuman, sekaligus menegaskan bahwa rahmat dan ampunan-Nya mutlak milik-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung peringatan keras tentang larangan merasa tahu dan memastikan ketetapan Allah, khususnya dalam hal pengampunan. Seseorang yang bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni orang lain telah melakukan dosa besar, yaitu "yata'alla" (bersumpah untuk membatasi rahmat Allah). Hikmahnya, Allah membatalkan pahala amal pelaku sebagai hukuman, sekaligus menegaskan bahwa rahmat dan ampunan-Nya mutlak milik-Nya.