Kitab 18 · Bab 51
Larangan mengambil sesuatu sebagai firasat (tathayyur).
✦ 4 Hadith ✦
# 1
وعنْ أنَسٍ رضي اللَّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ويُعْجِبُنى الفألُ » قالوا : ومَا الْفَألُ ؟ قَالَ : « كَلِمةٌ طيِّبَةٌ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada pertanda buruk (thiyarah), dan aku suka tafa'ul (optimis/pertanda baik)." Mereka bertanya: "Apakah tafa'ul itu?" Beliau menjawab: "Yaitu perkataan yang baik." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Nabi menolak kepercayaan jahiliyah bahwa penyakit bisa menular tanpa kehendak Allah, dan bahwa ada pertanda buruk tertentu. Sebaliknya, beliau menganjurkan optimisme dan perkataan baik.
Penjelasan singkat: Nabi ﷺ menolak keyakinan jahiliyah tentang ‘adwa (penularan penyakit secara mandiri) dan thiyarah (menganggap sial suatu pertanda). Beliau mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah. Sebagai gantinya, beliau menganjurkan tafa'ul (optimisme) yang merupakan bentuk husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah, yang diwujudkan dengan mengucap dan mendengar kalimat-kalimat yang baik.
Penjelasan singkat: Nabi menolak kepercayaan jahiliyah bahwa penyakit bisa menular tanpa kehendak Allah, dan bahwa ada pertanda buruk tertentu. Sebaliknya, beliau menganjurkan optimisme dan perkataan baik.
Penjelasan singkat: Nabi ﷺ menolak keyakinan jahiliyah tentang ‘adwa (penularan penyakit secara mandiri) dan thiyarah (menganggap sial suatu pertanda). Beliau mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah. Sebagai gantinya, beliau menganjurkan tafa'ul (optimisme) yang merupakan bentuk husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah, yang diwujudkan dengan mengucap dan mendengar kalimat-kalimat yang baik.
# 2
وعَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي اللَّه عَنْهُما قَالَ : قَالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : لا عَدْوى وَلا طِيَرَةَ ، وإنْ كَان الشُّؤمُ في شَىْءٍ ، فَفي الدَّارِ ، والمَرْأةِ وَالفَرَسِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada pertanda buruk (thiyarah). Jika ada pertanda buruk, maka itu pada rumah, wanita, dan kuda." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menegaskan penolakan terhadap thiyarah. Kalimat "jika ada pertanda buruk..." ditafsirkan sebagai gambaran kepercayaan orang jahiliyah, atau bahwa hal-hal itu bisa menjadi ujian jika seseorang bersikap buruk terhadapnya, bukan karena sifat dasarnya yang membawa sial.
Penjelasan singkat: Hadis ini menolak keyakinan tahayul tentang penyakit menular dengan sendirinya dan pertanda buruk (thiyarah). Pernyataan "jika ada pertanda buruk..." dimaknai sebagai penjelasan atas kepercayaan jahiliyah atau sebagai bentuk ujian, bukan pengakuan. Intinya, seorang muslim harus bertawakkal dan menjauhi sikap menyandarkan musibah pada hal-hal tertentu.
Penjelasan singkat: Hadits ini menegaskan penolakan terhadap thiyarah. Kalimat "jika ada pertanda buruk..." ditafsirkan sebagai gambaran kepercayaan orang jahiliyah, atau bahwa hal-hal itu bisa menjadi ujian jika seseorang bersikap buruk terhadapnya, bukan karena sifat dasarnya yang membawa sial.
Penjelasan singkat: Hadis ini menolak keyakinan tahayul tentang penyakit menular dengan sendirinya dan pertanda buruk (thiyarah). Pernyataan "jika ada pertanda buruk..." dimaknai sebagai penjelasan atas kepercayaan jahiliyah atau sebagai bentuk ujian, bukan pengakuan. Intinya, seorang muslim harus bertawakkal dan menjauhi sikap menyandarkan musibah pada hal-hal tertentu.
# 3
وعَنْ بُريْدةَ رضِيَ اللَّه عَنْهُ أنَّ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَانَ لا يتطَيَّرُ . رَواهُ أبُو داود بإسنادٍ صحيحٍ .
Terjemahan
Dari Buraidah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah berthiyarah (menganggap sial sesuatu). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sama sekali tidak percaya dan tidak melakukan thiyarah (merasa sial karena burung, waktu, atau tanda tertentu). Sikap ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk takhayul. Keyakinan akan kesialan merupakan syirik kecil yang dapat merusak tauhid. Oleh karena itu, kita dituntut untuk bersikap optimis dan positif dalam menghadapi segala urusan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sama sekali tidak percaya dan tidak melakukan thiyarah (merasa sial karena burung, waktu, atau tanda tertentu). Sikap ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk takhayul. Keyakinan akan kesialan merupakan syirik kecil yang dapat merusak tauhid. Oleh karena itu, kita dituntut untuk bersikap optimis dan positif dalam menghadapi segala urusan.
# 4
وَعنْ عُرْوَةَ بْنِ عامِرِ رضي اللَّه عَنْهُ قَالَ : ذُكِرتِ الطَّيَرَةُ عِنْد رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقَالَ : أحْسَنُهَا الْفَألُ ، وَلا تَرُدُّ مُسْلِماً ، فَإذا رأى أحَدُكُمْ ما يَكْرَه ، فَلْيقُلْ : اللَّهُمَّ لا يَأتى بالحَسَناتِ إلاَّ أنتَ ، وَلا يَدْفَعُ السَّيِّئاتِ إلاَّ أنْتَ ، وَلا حوْلَ وَلا قُوَّةَ إلاَّ بك » حديثٌ صَحيحٌ رَوَاهُ أبو داودُ بإسنادٍ صَحيحٍ .
Terjemahan
Dari 'Urwah bin Al-Ja'd radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Disebutkan tentang thiyarah (pertanda buruk) di hadapan Nabi ﷺ, maka beliau bersabda: "Yang terbaik adalah tafa'ul (optimis/pertanda baik), dan janganlah thiyarah membuat seorang muslim mundur (dari urusannya). Apabila salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang tidak disukainya (sebagai pertanda buruk), maka hendaklah ia berdoa: 'Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Engkau. Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (pertolongan) Allah.'" (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini melarang sikap pesimis dan mempercayai pertanda buruk (thiyarah). Sebagai gantinya, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk selalu optimis (tafa'ul) dan tidak mundur dari rencana baik karena prasangka buruk. Jika muncul perasaan was-was, beliau mengajarkan doa spesifik yang menguatkan keyakinan bahwa hanya Allah sumber kebaikan dan pelindung dari keburukan. Intinya, seorang muslim harus bertawakal dan bergantung hanya kepada Allah, bukan pada tanda-tanda.
Penjelasan singkat: Hadis ini melarang sikap pesimis dan mempercayai pertanda buruk (thiyarah). Sebagai gantinya, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk selalu optimis (tafa'ul) dan tidak mundur dari rencana baik karena prasangka buruk. Jika muncul perasaan was-was, beliau mengajarkan doa spesifik yang menguatkan keyakinan bahwa hanya Allah sumber kebaikan dan pelindung dari keburukan. Intinya, seorang muslim harus bertawakal dan bergantung hanya kepada Allah, bukan pada tanda-tanda.
‹
Larangan mendatangi dukun, peramal, dan ahli nujum dengan berbagai metode.
Larangan membuat gambar makhluk bernyawa untuk alas, kamar, pakaian, uang, bantal, selimut... dan larangan mengambil gambar untuk digantung di dinding, atap, tirai, diletakkan di bantal, pakaian... serta menggunakan gambar tersebut untuk dihilangkan.
›