Kitab 18 · Bab 77
Tidak boleh menyebut cuka sebagai "al-karam" (kemurahan hati).
✦ 2 Hadith ✦
# 1
عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضَيَ اللَّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا تُسَمُّوا الْعِنَبَ الْكَرْمَ ، فإِنَّ الْكَرْمَ المُسْلِمُ » متفقٌ عليه . وهذا لفظ مسلمٍ .
وفي روَايةٍ : « فَإِنَّمَا الْكَرْمُ قَلْبُ المُؤْمِنِ » وفي رواية للبخاري ومسلِم : « يَقُولُونَ الْكرْمُ إِنَّمَا الْكَرْمُ قلْبُ المُؤْمِنِ »
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian menyebut buah anggur sebagai 'al-karm', karena sesungguhnya al-karm adalah orang muslim."
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Dalam satu riwayat lain: "Sesungguhnya al-karm adalah hati orang beriman."
Dalam riwayat lain dari al-Bukhari dan Muslim: "Mereka (orang jahiliyah) menyebutnya karm, padahal sesungguhnya al-karm adalah hati orang beriman."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab bahasa dan penghormatan terhadap istilah. Nabi melarang menyebut anggur dengan "al-karm" karena nama itu telah dimuliakan untuk menyebut hati orang beriman atau muslim itu sendiri. Larangan ini bertujuan memutus kebiasaan jahiliyah dan mengalihkan penyebutan mulia kepada hal yang lebih utama, yaitu keimanan, sekaligus melatih kesadaran bahwa kata memiliki nilai dan pengaruh terhadap keyakinan.
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Dalam satu riwayat lain: "Sesungguhnya al-karm adalah hati orang beriman."
Dalam riwayat lain dari al-Bukhari dan Muslim: "Mereka (orang jahiliyah) menyebutnya karm, padahal sesungguhnya al-karm adalah hati orang beriman."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab bahasa dan penghormatan terhadap istilah. Nabi melarang menyebut anggur dengan "al-karm" karena nama itu telah dimuliakan untuk menyebut hati orang beriman atau muslim itu sendiri. Larangan ini bertujuan memutus kebiasaan jahiliyah dan mengalihkan penyebutan mulia kepada hal yang lebih utama, yaitu keimanan, sekaligus melatih kesadaran bahwa kata memiliki nilai dan pengaruh terhadap keyakinan.
# 2
وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حَجرٍ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « لا تَقُولُوا : الْكَرْمُ، وَلَكِنْ قُولُوا : الْعِنَبُ ، وَالحبَلَةُ » رواه مسلم .
« الحبَلَةُ » بفتح الحاءِ والباءِ ، ويقال أيضاً بإِسكان الباءِ .
Terjemahan
Dan dari Wa'il bin Hujr radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Janganlah kalian mengatakan 'al-karm', tetapi katakanlah 'al-'inab' (anggur) dan 'al-habalah' (pokok anggur)." (HR. Muslim).
"Al-Habalah" dengan fathah huruf ha' dan ba'. Juga disebutkan dengan menyukun huruf ba'.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghindari penggunaan kosakata (al-karm) yang biasa dipakai oleh orang-orang Jahiliyah karena mengandung kesyirikan dan kebanggaan diri. Nabi ﷺ menggantinya dengan istilah yang netral dan faktual (al-'inab dan al-habalah) untuk membersihkan akidah dan bahasa umat Islam dari pengaruh masa lalu. Intinya adalah pentingnya memilih diksi yang sesuai dengan nilai tauhid dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan, bahkan dalam hal sepele seperti penamaan benda.
"Al-Habalah" dengan fathah huruf ha' dan ba'. Juga disebutkan dengan menyukun huruf ba'.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghindari penggunaan kosakata (al-karm) yang biasa dipakai oleh orang-orang Jahiliyah karena mengandung kesyirikan dan kebanggaan diri. Nabi ﷺ menggantinya dengan istilah yang netral dan faktual (al-'inab dan al-habalah) untuk membersihkan akidah dan bahasa umat Islam dari pengaruh masa lalu. Intinya adalah pentingnya memilih diksi yang sesuai dengan nilai tauhid dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan, bahkan dalam hal sepele seperti penamaan benda.