✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Hal-Hal yang Dilarang
Kitab 18 · Bab 97

Larangan ikut campur dalam hukuman hudud (hukuman yang telah ditetapkan syariat).

✦ 2 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ ﴾[سورة النور(2)]
Terjemahan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat." (QS. An-Nur: 2).

Penjelasan singkat: Ayat ini menetapkan hukuman had bagi pezina yang belum menikah (muhshan), yaitu seratus kali cambuk. Perintah dilaksanakannya hukuman ini dengan tegas, tanpa dilandasi rasa belas kasihan yang dapat mengabaikan ketetapan agama, menegaskan bahwa menjaga kemuliaan dan kesucian masyarakat adalah bagian dari keimanan kepada Allah dan Hari Akhir. Hikmahnya adalah sebagai tindakan preventif (zawājir), pembersih dosa (jawābir), serta perlindungan nasab dan kehormatan dalam masyarakat.

# 2
وَعَنْ عَائِشَةَ رضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ قُرَيْشاً أَهَمَّهُمْ شَأْنُ المرْأَةِ المخْزُومِيَّةِ الَّتي سَرَقَتْ فَقَالُوا : منْ يُكَلِّمُ فيها رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالُوا : وَمَنْ يَجْتَريءُ عَلَيْهِ إِلاَّ أُسَامَةُ بْنُ زَيدٍ، حِبُّ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ،فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:«أَتَشْفَعُ في حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ تَعَالى ؟» ثم قام فاحتطب ثُمَّ قَالَ : « إِنَّمَا أَهلَكَ الَّذينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهمْ كَانُوا إِذا سَرَقَ فِيهم الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ ، أَقامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فاطِمَةَ بِنْبتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا »متفقٌ عليه . وفي رِوَاية: فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ : « أَتَشْفَعُ في حَدٍّ مِنْ حُدودِ اللَّهِ،؟» قَالَ أُسَامَةُ : اسْتَغْفِرْ لي يا رسُولَ اللَّهِ . قَالَ : ثُمَّ أمرَ بِتِلْكَ المرْأَةِ ، فقُطِعَتْ يَدُهَا.
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa sesungguhnya orang-orang Quraisy sangat khawatir mengenai kasus seorang wanita dari Bani Makhzum yang mencuri. Mereka berkata: "Siapa yang berani berbicara dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk (membela)nya?" Sebagian mereka berkata: "Siapa yang berani berbicara dengan beliau selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah?" Maka Usamah pun berbicara dengan beliau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Apakah kamu hendak meminta keringanan dalam salah satu hukum had dari hukum-hukum Allah?" Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah: "Wahai manusia! Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah bahwa apabila orang yang terpandang di antara mereka mencuri, mereka biarkan. Dan apabila orang yang lemah mencuri, mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan kupotong tangannya!" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dan dalam riwayat lain: Wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berubah, lalu beliau bersabda: "Apakah kamu hendak memberi syafaat (membela) dalam salah satu hukum had dari hukum-hukum Allah?" Usamah berkata: "Mohonkanlah ampun untukku, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: Kemudian beliau memerintahkan wanita itu, lalu dipotong tangannya.
Dalam riwayat lain: Wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berubah, lalu beliau bersabda: "Apakah kamu hendak memberi syafaat dalam salah satu hukuman dari hukuman-hukuman yang telah Allah tetapkan?" Usamah menjawab: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampun untukku kepada Allah." Kemudian beliau memerintahkan agar tangan wanita pencuri itu dipotong.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip keadilan Islam yang mutlak, tanpa pandang bulu. Rasulullah menolak tegas syafaat (pembelaan) untuk kriminal dari keluarga terhormat, karena hukum Allah berlaku sama bagi semua. Sikap beliau mengajarkan bahwa kedudukan sosial, kekayaan, atau hubungan dekat dengan penguasa tidak boleh menjadi alat untuk mengelak dari hukuman yang telah ditetapkan.