✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Akhlak yang Baik
Kitab 2 · Bab 8

Memberikan nasihat pendidikan dan peringatan yang singkat.

✦ 5 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة ﴾ .سورة النحل(125)
Terjemahan
Allah berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." (An-Nahl: 125)

Penjelasan singkat: Ayat ini menetapkan metode utama dakwah, yaitu dengan hikmah (argumentasi yang tepat sesuai kondisi objek dakwah) dan nasihat yang baik (bentuk penyampaian yang lembut dan menyentuh hati). Ini mengajarkan bahwa substansi dan cara penyampaian dakwah haruslah proporsional, bijak, dan penuh kasih sayang, bukan dengan kekerasan atau pemaksaan. Tujuannya adalah agar ajaran Islam dapat diterima dengan kesadaran dan ketulusan.

# 2
عن أبي وائِلٍ شَقِيقِ بنِ سَلَمَةَ قال : كَانَ ابْنُ مسْعُودٍ رضي اللَّه عنه يُذكِّرُنَا في كُل خَمِيسٍ مرة ، فَقَالَ لهُ رَجُلٌ : يَا أَبَا عبْدِ الرَّحْمنِ لوددْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ ، فقال : أما إِنَّهُ يَمنعني مِنْ ذلكَ أني أكْرَهُ أنْ أمِلَّكُمْ وإِنِّي أتخَوَّلُكُمْ بِالموْعِظةِ ، كَمـَا كَانَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَتَخَوَّلُنَا بها مَخافَةَ السَّآمَةِ علَيْنَا . متفقٌ عليه . « يَتَخَوَّلُنَا » يَتَعهَّدُنا .
Terjemahan
Dari Abu Wa'il Syaqiq bin Salamah, dia berkata: "Ibnu Mas'ud biasa memberi nasihat kepada kami setiap hari Kamis." Seorang laki-laki berkata kepadanya: "Wahai Abu Abdurrahman! Aku ingin engkau memberi nasihat kepada kami setiap hari." Dia menjawab: "Sesungguhnya yang menghalangiku untuk melakukan itu adalah karena aku khawatir akan membuat kalian bosan. Sungguh aku sangat perhatian dalam memberi nasihat kepada kalian, sebagaimana Rasulullah ﷺ sangat perhatian dalam memberi nasihat kepada kami, karena beliau khawatir akan membuat kami bosan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan hikmah dalam berdakwah dan mengajar, yaitu memperhatikan kondisi psikologis audiens agar tidak bosan, sehingga nasihat dapat diterima dengan baik.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip hikmah dan kasih sayang dalam berdakwah. Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak membanjiri orang dengan nasihat setiap hari, karena khawatir menimbulkan kejenuhan (as-samah). Pelajarannya adalah bahwa menyampaikan kebaikan harus memperhatikan kondisi psikologis pendengar, dengan menjaga keseimbangan agar ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik dan tidak membebani.

# 3
عن أبي الْيَقظان عَمَّار بن ياسر رضي اللَّه عنهما قال : سمِعْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إنَّ طُولَ صلاةِ الرَّجُلِ ، وَقِصر خُطْبِتِه ، مِئنَّةٌ مِنْ فقهِهِ . فَأَطِيلوا الصَّلاةَ ،وَأَقْصِروا الخُطْبةَ »رواه مسلم . « مِئنَّةٌ » بميم مفتوحة ، ثم همزة مكسورة ، ثم نون مشددة ، أيْ : علامة دَالَّةٌ على فِقْهِهِ.
Terjemahan
Dari Abu Al-Yaqzhan 'Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya lamanya shalat seseorang dan singkatnya khutbahnya adalah tanda dari kefaqihannya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah." (Diriwayatkan oleh Muslim)
"Mi`nnah" dengan mim yang difathah, kemudian hamzah yang dikasrah, kemudian nun yang ditasydid, artinya: tanda yang menunjukkan kefaqihannya.

Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan salah satu ciri orang yang faqih (mendalam ilmunya): lebih mengutamakan memperpanjang shalat (sebagai komunikasi dengan Allah) dan memperpendek khutbah (agar jemaah tidak bosan), selama masih sesuai sunnah.

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan salah satu ciri orang yang faqih (mendalam pemahaman agamanya), yaitu mengutamakan ibadah mahdhah (shalat) dengan memanjangkannya, dan bersikap efisien dalam dakwah (khutbah) dengan memendekkannya. Pelajaran utamanya adalah mendahulukan komunikasi dengan Allah (hablum minallah) yang khusyuk, baru kemudian menyampaikan nasihat kepada manusia (hablum minannas) dengan jelas, padat, dan tidak bertele-tele.

# 4
عن مُعاويةَ بنِ الحَكم السُّلَمِيِّ رضي اللَّه عنه قال : « بينما أَنا أصَلِّى مَع رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، إذْ عطسَ رجُلٌ مِنْ القَوْمِ فَقُلتُ : يرْحَمُكَ اللَّه ، فَرَماني القوم بابصارِهمْ ، فقلت : وا ثكل أُمَّيَاه ما شأنكم تنظرون إليَّ ؟ فجعلوا يضربون بأيديهم على أفخاذهم فلما رأيتهم يُصَمِّتُونني لكني سكت ، فَلَمَّا صلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَبابي هُوَ وأُمِّي ، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّماً قَبْله وَلا بَعْدَه أَحْسنَ تَعْلِيماً مِنْه ، فَوَاللَّه ما كَهَرنَي ولا ضَرَبَني وَلا شَتَمَني ، قال : « إِنَّ هَذِهِ الصَّلاةَ لا يَصْلُحُ فيها شَيءُ مِنْ كَلامِ النَّاسِ ، إِنَّمَا هِيَ التَّسْبِيحُ والتَّكْبِيرُ ، وقرَاءَةُ الْقُرآنِ » أو كما قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . قلت : يا رسول اللَّه ، إني حديث عهْدٍ بجَاهِلية ، وقدْ جاءَ اللَّه بِالإِسْلامِ ، وإِنَّ مِنَّا رجالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ ؟ قال : « فَلا تأْتهِمْ » قلت : وَمِنَّا رجال يَتَطيَّرونَ؟ قال : «ذَاكَ شَيْء يَجِدونَه في صُدورِهِم ، فَلا يصُدَّنَّهُمْ » رواه مسلم . « الثُّكْل » بضم الثاءِ المُثلثة : المُصِيبة وَالفَجيعة . « ما كَهَرني » أيْ ما نهرَني .
Terjemahan
Dari Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari jamaah kami yang bersin. Aku pun mengucapkan: 'Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).' Saat itu semua orang memandangiku. Aku bertanya: 'Mengapa kalian memandangiku?' Mereka pun menepuk paha mereka dengan tangan mereka. Ketika aku melihat mereka menyuruhku diam, aku pun diam. Setelah Rasulullah ﷺ selesai shalat, demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pendidik pun sebelum atau sesudah beliau yang cara mendidiknya lebih baik daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku. Beliau bersabda: 'Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak pantas ada percakapan manusia. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur'an.' (atau seperti yang diucapkan Rasulullah ﷺ). Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, aku baru saja keluar dari masa jahiliyah, dan Allah telah menganugerahkan Islam kepada kami. Di antara kami ada yang pergi kepada dukun, bagaimana pendapatmu?' Beliau menjawab: 'Jangan kamu pergi kepada mereka.' Aku bertanya lagi: 'Dan di antara kami ada yang percaya pada tanda-tanda (thiyarah), bagaimana pendapatmu?' Beliau menjawab: 'Itu hanyalah perasaan dalam hati mereka, jangan sampai hal itu menghalangi (urusan) kalian'."

Penjelasan singkat: Hadits panjang ini mengandung banyak pelajaran: (1) Larangan berbicara dalam shalat. (2) Cara Nabi ﷺ yang sangat lembut dalam mengajari orang yang salah. (3) Larangan mendatangi dukun dan percaya pada thiyarah (pamali/pertanda buruk).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa berbicara dengan ucapan selain bacaan shalat, meski untuk kebaikan seperti mendoakan orang bersin, dapat membatalkan shalat. Rasulullah ﷺ mengajarkan dengan cara yang sangat baik, tanpa marah, menunjukkan pentingnya menuntun umat dengan lemah lembut. Hikmahnya, kita harus menjaga konsentrasi dan kesempurnaan ibadah, serta mencontoh metode pengajaran Nabi yang penuh hikmah dan kesabaran.

# 5
وعن العِرْباض بن سَاريةَ رضي اللَّه عنه قال : وَعظَنَا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنهْا القُلُوب . وَذَرِفَتْ مِنْها العُيُون وَذَكَرَ الحدِيثَ ، وَقدْ سَبق بِكَمالِهِ في باب الأمر بالمُحافَظةِ على السُّنَّةِ ، وذَكَرْنَا أَنَّ التِّرْمِذيَّ قال إنه حديث حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Al-Agharr bin Yasar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ memberi nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran... dan beliau mengingatkan hadits yang telah disebutkan secara lengkap dalam bab tentang menjaga lisan, dan kami telah menjelaskan bahwa 'Athiyyah mengatakan: Hadits ini hasan shahih.

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa dalamnya pengaruh nasihat Rasulullah ﷺ, yang mampu menyentuh kalbu dan mencucurkan air mata para sahabat. Ini menunjukkan bahwa kebenaran yang disampaikan dengan ikhlas akan menghunjam ke dalam hati. Pelajaran utamanya adalah keharusan untuk menerima dan meresapi nasihat agama dengan penuh kesungguhan dan ketundukan hati, serta pentingnya menjaga lisan sebagai implementasi dari ajaran Sunnah.