Kitab 2 · Bab 11
Memuliakan tamu.
✦ 4 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ هل أتاك حديث ضيف إبراهيم المكرمين، إذ دخلوا عليه فقالوا سلاماً، قال سلام قوم منكرون. فراغ إلى أهله فجاء بعجل سمين، فقربه إليهم قال: ألا تأكلون؟ ﴾ سورة الذاريات(24-27)
Terjemahan
Allah berfirman: "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan, 'Salam.' Ibrahim menjawab, 'Salam.' (Mereka itu) orang-orang yang belum dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar). Lalu dihidangkannya kepada mereka. Dia berkata, 'Silakan makan.'" (Adz-Dzariyat: 24-27)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan adab mulia dalam bertamu dan menerima tamu. Tamu (malaikat) mengucapkan salam sebagai bentuk doa dan penghormatan, yang dijawab dengan salam oleh Nabi Ibrahim. Sikap Nabi Ibrahim yang segera menghidangkan makanan terbaik tanpa menanyakan identitas tamu terlebih dahulu, menunjukkan keutamaan memuliakan tamu, berbuat baik tanpa pamrih, dan kedermawanan yang tulus.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan adab mulia dalam bertamu dan menerima tamu. Tamu (malaikat) mengucapkan salam sebagai bentuk doa dan penghormatan, yang dijawab dengan salam oleh Nabi Ibrahim. Sikap Nabi Ibrahim yang segera menghidangkan makanan terbaik tanpa menanyakan identitas tamu terlebih dahulu, menunjukkan keutamaan memuliakan tamu, berbuat baik tanpa pamrih, dan kedermawanan yang tulus.
# 2
وقال تعالى: ﴿ وجاءه قومه يهرعون إليه، ومن قبل كانوا يعملون السيئات! قال: يا قوم هؤلاء بناتي هن أطهر لكم، فاتقوا اللَّه ولا تخزون في ضيفي، أليس منكم رجل رشيد ﴾ .سورة هود(78)
Terjemahan
Allah berfirman: "Kaum (Nabi) Luth segera mendatangi beliau, dan sebelumnya mereka adalah orang-orang yang berbuat kejahatan (mereka menyukai sesama jenis)." Beliau (Luth) berkata: "Wahai kaumku! Ini adalah putri-putriku (nikahilah mereka), mereka lebih suci bagi kalian. Bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian membuat aku malu terhadap tamuku. Apakah di antara kalian tidak ada orang yang berakal sehat?" (Hud: 78)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Kisah Nabi Luth mengajarkan pentingnya menjaga akhlak, menghormati hak tamu, dan menolak perbuatan keji (homoseksual). Nabi Luth menawarkan solusi yang halal (pernikahan dengan wanita) sebagai alternatif, menegaskan bahwa jalan ketaatan lebih suci dan membawa ketenangan. Seruan "apakah tidak ada orang yang berakal sehat?" mengajak menggunakan nalar sehat untuk membedakan antara hawa nafsu yang merusak dan petunjuk Allah yang menyelamatkan.
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Kisah Nabi Luth mengajarkan pentingnya menjaga akhlak, menghormati hak tamu, dan menolak perbuatan keji (homoseksual). Nabi Luth menawarkan solusi yang halal (pernikahan dengan wanita) sebagai alternatif, menegaskan bahwa jalan ketaatan lebih suci dan membawa ketenangan. Seruan "apakah tidak ada orang yang berakal sehat?" mengajak menggunakan nalar sehat untuk membedakan antara hawa nafsu yang merusak dan petunjuk Allah yang menyelamatkan.
# 3
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ كانَ يُؤمنُ بِاللَّه واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكرِمْ ضَيفَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللَّه واليَوم الآخِرِ فليصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يؤمِنُ بِاللَّه وَاليوْمِ الآخِرِ فَلْيَقلْ خَيْراً أَوْ ليَصْمُتْ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menyambung tali silaturahmi. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan tiga tanda keimanan yang sempurna: memuliakan tamu, menyambung tali kekerabatan, dan menjaga lisan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengaitkan kesempurnaan iman dengan akhlak praktis. Iman bukan hanya keyakinan hati, tetapi harus terwujud dalam tiga bentuk: memuliakan tamu, menyambung silaturahmi, dan menjaga lisan. Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa etika sosial dan komunikasi yang baik adalah bukti nyata dari keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan tiga tanda keimanan yang sempurna: memuliakan tamu, menyambung tali kekerabatan, dan menjaga lisan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengaitkan kesempurnaan iman dengan akhlak praktis. Iman bukan hanya keyakinan hati, tetapi harus terwujud dalam tiga bentuk: memuliakan tamu, menyambung silaturahmi, dan menjaga lisan. Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa etika sosial dan komunikasi yang baik adalah bukti nyata dari keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir.
# 4
وعن أبي شُرَيْح خُوَيلدِ بن عمرو الخُزَاعِيِّ رضي اللَّه عنه قال : سَمِعتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « مَنْ كان يؤمِنُ بِاللَّه واليوْمِ الآخِرِ فَلْيُكرمْ ضَيفَهُ جَائِزَتَهُ » قالوا : وما جَائِزَتُهُ يا رسول اللَّه ؟ قال : « يَومُه وَلَيْلَتُهُ . والضِّيَافَةُ ثَلاثَةُ أَيَّامِ ، فما كان وَرَاءَ ذلكَ فهو صَدَقَة عليه » متفقٌ عليه .
وفي روايةٍ لمسلم : « لا يحِلُّ لِمُسلمٍ أن يُقِيم عند أخِيهِ حتى يُؤْثِمَهُ » قالوا : يا رسول اللَّه . وكَيْف يُؤْثِمُهُ ؟ قال : « يُقِيمُ عِنْدَهُ وَلا شَيءَ لَهُ يَقْرِيهِ بِهِ » .
Terjemahan
Dari Abu Syuraih Khuwailid bin 'Amr Al-Khuza'i radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya sesuai dengan haknya." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apa haknya?" Beliau menjawab: "(Memberikan jamuan) satu hari satu malam, dan (hak) menerima tamu adalah tiga hari. Lebih dari itu adalah sedekah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dari Muslim disebutkan: "Seorang muslim tidak diizinkan tinggal bersama saudaranya (sesama muslim) hingga membuatnya berdosa." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana caranya dia membuat tuan rumah berdosa?" Beliau menjawab: "Dia tinggal bersamanya hingga tuan rumah tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya."
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan hak tamu untuk dijamu selama tiga hari, dan larangan membebani tuan rumah dengan tinggal lebih lama hingga menyulitkannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa memuliakan tamu adalah ciri keimanan. Kewajiban utama seorang tuan rumah adalah memberikan jamuan selama satu hari semalam, sedangkan batas maksimal penerimaan tamu adalah tiga hari. Lebih dari itu, pemberiannya dianggap sedekah. Hadis ini mengajarkan sikap dermawan sekaligus menjaga agar silaturahmi tidak memberatkan salah satu pihak.
Dalam riwayat lain dari Muslim disebutkan: "Seorang muslim tidak diizinkan tinggal bersama saudaranya (sesama muslim) hingga membuatnya berdosa." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana caranya dia membuat tuan rumah berdosa?" Beliau menjawab: "Dia tinggal bersamanya hingga tuan rumah tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya."
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan hak tamu untuk dijamu selama tiga hari, dan larangan membebani tuan rumah dengan tinggal lebih lama hingga menyulitkannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa memuliakan tamu adalah ciri keimanan. Kewajiban utama seorang tuan rumah adalah memberikan jamuan selama satu hari semalam, sedangkan batas maksimal penerimaan tamu adalah tiga hari. Lebih dari itu, pemberiannya dianggap sedekah. Hadis ini mengajarkan sikap dermawan sekaligus menjaga agar silaturahmi tidak memberatkan salah satu pihak.