✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Akhlak yang Baik
Kitab 2 · Bab 12

Sebaiknya memberikan kabar gembira dan mengucapkan selamat atas hal-hal baik.

✦ 12 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ فبشر عباد الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه ﴾ .سورة الزمر(17-18)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan (Al-Qur'an) lalu mengikuti yang terbaik darinya." (Az-Zumar: 17-18)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus menjadi pendengar yang kritis dan selektif. Kewajiban kita bukan hanya mendengar, tetapi menimbang dan memilih perkataan yang paling baik dan benar (terutama Al-Qur'an dan sunnah). Hikmahnya adalah larangan untuk bersikap taklid buta, serta perintah untuk selalu mengedepankan dalil yang paling kuat dan petunjuk yang paling lurus dalam segala urusan.

# 2
وقال تعالى: ﴿ يبشرهم ربهم برحمة منه ورضوان، وجنات لهم فيها نعيم مقيم ﴾ .سورة التوبة(21)
Terjemahan
Allah berfirman: "Rabb mereka memberikan kabar gembira kepada mereka dengan (mendapat) rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga bagi mereka. Di dalamnya mereka memperoleh kenikmatan yang kekal." (At-Taubah: 21)

Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan janji Allah yang sangat agung bagi orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan-Nya. Kabar gembira itu berupa rahmat Allah, keridhaan-Nya yang merupakan puncak kebahagiaan, serta surga dengan kenikmatan abadi. Ini menjadi motivasi kuat untuk tetap istiqamah dalam keimanan dan pengorbanan, dengan balasan yang jauh melebihi segala kesulitan di dunia.

# 3
وقال تعالى: ﴿ وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون ﴾ .سورة فصلت(30)
Terjemahan
Allah berfirman: "(Para malaikat memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman ketika wafat dengan mengatakan) Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu." (Fussilat: 30)

Penjelasan singkat: Ayat ini memberikan gambaran tentang akhir yang mulia bagi orang-orang beriman. Inti pelajarannya adalah janji Allah pasti benar, sehingga seorang mukmin harus selalu optimis dan bergembira dengan rahmat-Nya. Kabar gembira dari malaikat saat kematian merupakan buah dari ketakwaan dan kesabaran dalam menjalani ujian dunia. Hal ini seharusnya memotivasi kita untuk konsisten dalam iman dan amal saleh.

# 4
وقال تعالى: ﴿ فبشرناه بغلام حليم ﴾ .سورة الصافات(101)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar." (Ash-Shaffat: 101)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengisahkan kabar gembira kelahiran Nabi Ismail sebagai anak yang حليم (halim), yaitu sifat yang menggabungkan kesabaran, ketenangan, dan pengendalian diri yang sempurna dalam menghadapi ujian. Hikmahnya, Allah memberikan anugerah terbaik berupa keturunan yang shalih dan berakhlak mulia sebagai buah dari kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim. Kisah ini mengajarkan bahwa kesabaran sejati akan berbuah kebaikan, dan bahwa pendidikan akhlak (seperti sifat 'halim') adalah inti dari keberhasilan seorang anak.

# 5
وقال تعالى: ﴿ ولقد جاءت رسلنا إبراهيم بالبشرى ﴾ .سورة هود(69)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira." (Hud: 69)

Penjelasan singkat: Ayat ini mengisahkan kedatangan malaikat utusan Allah kepada Nabi Ibrahim dengan membawa kabar gembira, yaitu kelahiran putranya, Ishak. Peristiwa ini mengajarkan tentang kebenaran janji Allah, betapa Dia mengutus malaikat-Nya untuk menyampaikan berita baik kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Kisah ini juga menunjukkan kemuliaan dan kedudukan Nabi Ibrahim di sisi Allah, serta menjadi bukti kasih sayang Allah kepada para nabi dan orang-orang yang beriman.

# 6
وقال تعالى: ﴿ وامرأته قائمة فضحكت فبشرناها بإسحاق، ومن وراء إسحاق يعقوب ﴾ .سورة هود(71)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan istrinya (Ibrahim) berdiri lalu tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq, dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya'qub." (Hud: 71)

Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia mengisahkan mukjizat kelahiran Nabi Ishaq dari Nabi Ibrahim dan istrinya Sarah, yang telah tua dan mandul. Kabar gembira ini disertai dengan kelahiran cucu (Ya'qub) sebagai anugerah berlipat, menunjukkan kuasa Allah mengatasi hukum alam. Hikmahnya adalah keyakinan penuh pada janji Allah, kesabaran dalam penantian, serta karunia-Nya yang melampaui harapan.

# 7
وقال تعالى: ﴿ فنادته الملائكة وهو قائم يصلي في المحراب أن اللَّه يبشرك بيحيى ﴾ .سورة آل عمران(39)
Terjemahan
Allah berfirman: "Kemudian malaikat (Jibril) menyerunya (Zakariya) ketika dia berdiri melaksanakan shalat di mihrab, 'Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang anak laki-laki, namanya Yahya.'" (Ali 'Imran: 39)

Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia mengajarkan bahwa doa yang ikhlas dan sungguh-sungguh, terutama ketika sedang mendirikan shalat, adalah waktu yang mustajab untuk dikabulkan oleh Allah. Kisah Nabi Zakariya yang diberi kabar gembira kelahiran putranya, Yahya, di tengah kekhusyukan shalatnya menjadi bukti nyata akan kuasa Allah dan anugerah-Nya yang tak terduga.

# 8
وقال تعالى: ﴿ إذ قالت الملائكة يا مريم إن اللَّه يبشرك بكلمة منه اسمه المسيح ﴾ الآية. سورة آل عمران(45)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan ingatlah ketika malaikat (Jibril) berkata, 'Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya, namanya Al-Masih 'Isa putra Maryam.'" (Ali 'Imran: 45)

Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Isa 'alaihis salam disebut "kalimat dari Allah" karena ia tercipta dengan kalimat Allah "Kun" (jadilah) tanpa ayah. Ini adalah bukti kekuasaan Allah yang mutlak. Gelar "Al-Masih" yang diberikan langsung oleh Allah menunjukkan kemuliaan dan kedudukannya yang khusus. Kisah ini juga mengajarkan tentang keimanan kepada para nabi dan mukjizat Allah yang melampaui hukum alam.

# 9
عن أبي إِبراهيمَ وَيُقَالُ أبو محمد ويقال أَبو مُعَاوِيةَ عبدِ اللَّه بن أبي أَوْفي رضي اللَّه عنه أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بَشَّرَ خَدِيجَةَ ، رضي اللَّه عنها ، بِبيْتٍ في الجنَّةِ مِنْ قَصَبٍ ، لاصَخبَ فِيه ولا نَصب . متفقٌ عليه . « الْقَصبُ » هُنا : اللُّؤْلُؤ المُجوفُ . « والصَّخبُ » الصِّياحُ واللَّغَطُ . «وَالنَّصَبُ » : التعبُ .
Terjemahan
Dari Abu Ibrahim -ada yang mengatakan Abu Muhammad, dan ada yang mengatakan Abu Mu'awiyah- 'Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada Khadijah radhiyallahu 'anha tentang sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang berongga, tidak ada kegaduhan di dalamnya dan tidak ada keletihan. (Muttafaqun 'alaih)
"Al-Qashbu" di sini artinya: mutiara yang berongga. "Ash-Shakhbu" artinya: teriakan dan keributan. "An-Nashabu" artinya: kelelahan.
Penjelasan singkat: Hadits ini mengabarkan tentang janji surga khusus untuk Khadijah radhiyallahu 'anha, istri Nabi yang pertama dan setia, berupa rumah indah yang tenang.

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kemuliaan Khadijah di sisi Allah dan janji surga yang istimewa untuknya. Rumah di surga yang terbuat dari mutiara, tanpa kebisingan dan kelelahan, menggambarkan kenikmatan hakiki dan ketenangan abadi bagi orang beriman. Ini menjadi motivasi untuk meneladani ketakwaan dan pengorbanannya, serta mengingatkan bahwa balasan di akhirat jauh lebih indah dari segala kesulitan di dunia.

# 10
وعن أبي موسى الأشعريِّ رضي اللَّه عنه ، أَنَّهُ تَوضَّأَ في بيتهِ ، ثُمَّ خَرَجَ فقال: لألْزَمَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ولأكُونَنَّ معَهُ يوْمِي هذا ، فجاءَ المَسْجِدَ ، فَسَأَلَ عَن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقَالُوا : وَجَّهَ ههُنَا ، قال : فَخَرَجْتُ عَلى أَثَرِهِ أَسأَلُ عنْهُ ، حتَّى دَخَلَ بئْرَ أريسٍ فجلَسْتُ عِنْدَ الْباب حتَّى قَضَى رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حاجتَهُ وتَوضَّأَ، فقُمْتُ إِلَيْهِ ، فإذا هُو قَدْ جلَس على بئر أَريس ، وتَوسطَ قفَّهَا ، وكَشَفَ عنْ ساقَيْهِ ودلاهمَا في البِئِر ، فَسلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ انْصَرفتْ . فجَلسْتُ عِند الباب فَقُلت : لأكُونَنَّ بَوَّاب رسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم اليوْم . فَجاءَ أَبُو بَكْرٍ رضي اللَّهُ عنه فدفَع الباب فقُلْتُ : منْ هَذَا ؟ فَقَالَ : أَبُو بكرٍ ، فَقلْت : على رِسْلِك ، ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُلتُ : يا رسُول اللَّه هذَا أَبُو بَكْرٍ يسْتَأْذِن ، فَقال: « ائْذَنْ لَه وبشِّرْه بالجنَّةِ » فَأَقْبَلْتُ حتَّى قُلت لأبي بكرٍ : ادْخُلْ ورسُولُ اللَّه يُبشِّرُكَ بِالجنةِ ، فدخل أَبُو بَكْرٍ حتَّى جلَس عنْ يمِينِ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم معَهُ في القُفِّ ، ودَلَّى رِجْلَيْهِ في البئِرِ كما صنَعَ رَسُولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وكَشَف عنْ ساقيْهِ ، ثُمَّ رَجَعْتُ وجلسْتُ ، وقد ترَكتُ أَخي يتوضأُ ويلْحقُني ، فقُلْتُ : إنْ يُرِدِ اللَّه بِفُلانٍ يُريدُ أَخَاهُ خَيْراً يأْتِ بِهِ . فَإِذا إِنْسانٌ يحرِّكُ الباب ، فقُلت : منْ هَذَا ؟ فَقال : عُمَرُ بنُ الخطَّابِ : فقُلْتُ: على رِسْلِك ، ثمَّ جئْتُ إلى رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَسلَّمْتُ عليْهِ وقُلْتُ : هذَا عُمرُ يَسْتَأْذِنُ ؟ فَقَالَ: « ائْذنْ لَهُ وبشِّرْهُ بِالجَنَّةِ » فَجِئْتُ عمر ، فَقُلْتُ : أَذِنَ أُدخلْ وَيبُشِّرُكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِالجَنَّةِ، فَدَخَل فجَلَسَ مَعَ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في القُفِّ عَنْ يسارِهِ ودَلَّى رِجْلَيْهِ في البِئْر ، ثُمَّ رجعْتُ فَجلَسْتُ فَقُلْت : إن يُرِدِ اللَّه بِفلانٍ خَيْراً يعْني أَخَاهُ يأْت بِهِ . فجاء إنْسانٌ فحركَ الباب فقُلْتُ : مَنْ هذَا ؟ فقَال : عُثْمانُ بنُ عفانَ . فَقلْتُ : عَلى رسْلِكَ ، وجئْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأْخْبرْتُه فَقَالَ : « ائْذَن لَهُ وبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ مَعَ بَلْوى تُصيبُهُ » فَجئْتُ فَقُلتُ : ادْخلْ وَيُبشِّرُكَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِالجَنَّةِ مَعَ بَلْوَى تُصيبُكَ ، فَدَخَل فَوَجَد القُفَّ قَدْ مُلِئَ ، فَجَلَس وُجاهَهُمْ مِنَ الشَّقِّ الآخِرِ . قَالَ سَعِيدُ بنُ المُسَيَّبِ : فَأَوَّلْتُها قُبُورهمْ. متفقٌ عليه . وزاد في روايةٍ : « وأمَرني رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بحِفْظِ الباب وَفِيها : أَنَّ عُثْمانَ حِينَ بشَّرهُ حمِدَ اللَّه تعالى ، ثُمَّ قَال : اللَّه المُسْتعَانُ . قوله : « وجَّهَ » بفتحِ الواوِ وتشديدِ الجيمِ ، أَيْ : توجَّهَ . وقوله : « بِئْر أريسٍ » : هو بفتحِ الهمزةِ وكسرِ الراءِ ، وبعْدَها ياء مثَناةٌ مِن تحت ساكِنَةٌ ، ثُم¢َّ سِينٌ مهملةٌ ، وهو مصروفٌ ، ومنهمْ منْ منَع صرْفَهُ . « والقُفُّ » بضم القاف وتشديدِ الفاء : هُوَ المبْنيُّ حوْلَ البِئْرِ . قوله : « عَلى رِسْلِك » بكسر الراءِ على المشهور ، وقيل بفتحها ، أَيْ : ارْفُقْ .
Terjemahan
Dan dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa dia berwudhu di rumahnya, kemudian keluar dan berkata: "Sungguh aku akan selalu menyertai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan akan bersamanya sepanjang hariku ini." Lalu dia datang ke masjid dan bertanya tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka berkata: "Beliau pergi ke arah sini." Abu Musa berkata: "Aku pun keluar mengikuti jejaknya sambil bertanya tentang beliau, hingga beliau masuk ke sumur Aris. Aku duduk di dekat pintu hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan hajatnya dan berwudhu. Kemudian aku mendatangi beliau, ternyata beliau sedang duduk di tepi sumur Aris, berada di tengah-tengah dinding sumur, dan menyingkap kedua betisnya lalu menggantungkannya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepadanya lalu pergi.
Aku duduk di dekat pintu dan berkata: "Hari ini aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
Kemudian datang Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dan mendorong pintu. Aku bertanya: "Siapa ini?" Dia menjawab: "Abu Bakar." Aku berkata: "Tunggu sebentar." Lalu aku pergi dan berkata: "Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar meminta izin." Beliau bersabda: "Izinkan dia dan berilah dia kabar gembira dengan surga." Aku pun kembali dan berkata kepada Abu Bakar: "Masuklah, Rasulullah memberimu kabar gembira dengan surga." Abu Bakar masuk lalu duduk di sebelah kanan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersama beliau di dinding sumur, dan menggantungkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, serta menyingkap kedua betisnya. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku telah meninggalkan saudaraku sedang berwudhu dan akan menyusulku. Aku berkata (dalam hati): "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk si fulan -maksudnya saudaraku- niscaya Dia akan mendatangkannya."
Tiba-tiba ada seseorang menggerakkan pintu. Aku bertanya: "Siapa ini?" Dia menjawab: "Umar bin Al-Khaththab." Aku berkata: "Tunggu sebentar." Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mengucapkan salam dan berkata: "Ini Umar meminta izin." Beliau bersabda: "Izinkan dia dan berilah dia kabar gembira dengan surga." Aku pun mendatangi Umar dan berkata: "Masuklah, Rasulullah memberimu kabar gembira dengan surga." Dia masuk lalu duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dinding sumur, di sebelah kiri beliau, dan menggantungkan kedua kakinya ke dalam sumur. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku berkata (dalam hati): "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk si fulan -maksudnya saudaraku- niscaya Dia akan mendatangkannya."
Tiba-tiba datang seseorang menggerakkan pintu. Aku bertanya: "Siapa ini?" Dia menjawab: "Utsman..."

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan semangat sahabat untuk selalu menyertai dan belajar langsung dari Nabi Muhammad SAW. Abu Musa Al-Asy'ari dengan sengaja berikhtiar maksimal untuk mencari dan menunggu Nabi, demi dapat bersamanya. Perilaku ini mencerminkan adab yang tinggi: kesungguhan dalam menuntut ilmu, kesabaran menunggu guru, serta menjaga privasi dan kebutuhan pribadi beliau.

# 11
وعنْ أبي هريرة رضي اللَّه عنهُ قال : كُنَّا قُعُوداً حَوْلَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، وَمعَنَا أَبُو بكْرٍ وعُمَرُ رضي اللَّه عنهما في نَفَر ، فَقامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ بينِ أَظْهُرِنا فَأَبْطَأَ علَيْنَا وخَشِينا أَنْ يُقْتَطَعَ دُونَنا وَفَزِعْنَا فقُمنا ، فَكُنْتُ أَوّل من فَزِع . فَخَرَجْتُ أَبْتغي رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، حتى أَتَيْتُ حَائِطاً للأَنْصَارِ لِبني النَّجَّارِ ، فَدُرْتُ بِهِ هَلْ أَجِدُ لَهُ باباً ؟ فلَمْ أَجِدْ ، فإذَا ربيعٌ يدْخُلُ في جوْف حَائِط مِنْ بِئرٍ خَارِجَه والرَّبيعُ: الجَدْوَلُ الصَّغيرُ فاحتَفزْتُ ، فدَخلْتُ عَلى رسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . فقال : « أَبو هُريرة ؟ » فَقُلْتُ : نَعَمْ يَا رسُولَ اللَّهِ ، قال : « ما شَأنُك » قلتُ : كُنْتَ بَيْنَ ظَهْرَيْنَا فقُمْتَ فَأَبَطأْتَ علَيْنَا ، فَخَشِينَا أَنْ تُقَتطعَ دُونَنا ، ففَزعنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ منْ فَزعَ فأَتَيْتُ هذَا الحائِطَ ، فَاحْتَفَزْتُ كَمَا يَحْتَفِزُ الثَّعلبُ ، وَهؤلاءِ النَّاسُ وَرَائي . فَقَالَ : « يَا أَبا هريرة » وأَعطَاني نَعْلَيْهِ فَقَال : « اذْهَبْ بِنَعْلَي هاتَيْنِ ، فَمنْ لقيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذا الحائِط يَشْهَدُ أَنْ لا إلهِ إلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقناً بها قَلبُهُ ، فَبَشِّرْهُ بالجنَّةِ » وذَكَرَ الحدِيثَ بطُولِهِ ، رواه مسلم . « الرَّبيعُ » النَّهْرُ الصَّغِيرُ ، وَهُوَ الجدْوَلُ بفتح الجيم كَمَا فَسَّرهُ في الحَدِيثِ. وقولُه: « احْتَفَزْت » رويَ بالرَّاءِ وبالزَّاي ، ومعناهُ بالزاي : تَضَامَمْتُ وتصَاغَرْتُ حَتَّى أَمْكَنَني الدُّخُولُ .
Terjemahan
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan bersama kami ada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma dalam suatu kelompok. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangkit dari tengah-tengah kami, lalu beliau lama tidak kembali. Kami khawatir beliau terputus dari kami, dan kami pun ketakutan, lalu kami berdiri. Akulah orang pertama yang ketakutan.
Aku keluar mencari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hingga aku sampai di sebuah kebun milik Anshar dari Bani An-Najjar. Aku mengelilinginya, apakah aku menemukan pintunya? Ternyata tidak aku temukan. Tiba-tiba ada saluran air kecil yang masuk ke dalam kebun dari sebuah sumur di luarnya -Ar-Rabi' artinya saluran air kecil- lalu aku merapatkan badan dan masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Beliau bertanya: "Abu Hurairah?" Aku menjawab: "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bertanya: "Ada apa denganmu?" Aku menjawab: "Anda tadi berada di tengah-tengah kami, lalu Anda berdiri dan lama tidak kembali kepada kami. Kami khawatir Anda terputus dari kami, maka kami ketakutan. Akulah orang pertama yang ketakutan, lalu aku datang ke kebun ini dan merapatkan badan seperti rubah merapatkan badannya, sedangkan orang-orang ini di belakangku."
Beliau bersabda: "Wahai Abu Hurairah," lalu beliau memberikan kedua sandalnya kepadaku dan bersabda: "Pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. Siapa pun yang kamu temui di balik kebun ini yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan keyakinan hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan surga." Dan dia menyebutkan hadits secara panjang. (Diriwayatkan oleh Muslim)
"Ar-Rabi'" artinya sungai kecil, yaitu saluran air (dengan membuka huruf jim), sebagaimana dijelaskan dalam hadits. Ucapan beliau "ihtafaztu" diriwayatkan dengan huruf ra' dan za', maknanya dengan za' adalah: aku merapatkan dan mengecilkan tubuhku hingga memungkinkanku untuk masuk.
Penjelasan singkat: Hadits panjang ini menceritakan bagaimana Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mendapatkan tugas mulia dari Nabi untuk menyampaikan kabar gembira surga kepada siapa saja yang mengucapkan kalimat tauhid dengan penuh keyakinan.

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kecintaan dan kekhawatiran luar biasa para sahabat terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Kecemasan mereka ketika beliau menghilang sejenak mencerminkan betapa mereka merasa tidak bisa hidup terpisah dari beliau, baik secara fisik maupun spiritual. Sikap Abu Hurairah yang pertama kali bertindak mencari juga menggambarkan semangat dan kewaspadaan dalam menjaga hubungan dengan Rasulullah.

# 12
وعن ابنِ شُماسَةَ قالَ : حَضَرْنَا عَمْرَو بنَ العاصِ رضي اللَّهُ عنه ، وَهُوَ في سِيَاقَةِ المَوْتِ فَبَكى طَويلاً ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ إِلى الجدَارِ ، فَجَعَلَ ابْنُهُ يَقُولُ : يا أَبَتَاهُ ، أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بكَذَا ؟ أَما بشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بكَذَا ؟ فَأَقْبلَ بوَجْههِ فَقَالَ : إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّه ، وأَنَّ مُحمَّداً رسُول اللَّه إِنِّي قَدْ كُنْتُ عَلى أَطبْاقٍ ثَلاثٍ : لَقَدْ رَأَيْتُني وَمَا أَحَدٌ أَشَدَّ بُغْضاً لرَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنِّي ، وَلا أَحبَّ إِليَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ قَدِ استمْكنْت مِنْهُ فقَتلْتهُ ، فَلَوْ مُتُّ عَلى تِلْكَ الحالِ لَكُنْتُ مِنْ أَهْلِ النَّار . فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الإِسْلامَ في قَلْبي أَتيْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقُلْتُ : ابْسُطْ يمينَكَ فَلأُبَايعْكَ ، فَبَسَطَ يمِينَهُ فَقَبَضْتُ يَدِي ، فقال : « مالك يا عمرو ؟ » قلت : أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرطَ قالَ : « تَشْتَرطُ ماذَا ؟ » قُلْتُ أَنْ يُغْفَرَ لي ، قَالَ : أَمَا عَلمْتَ أَنَّ الإِسْلام يَهْدِمُ ما كَانَ قَبلَهُ، وَأَن الهجرَةَ تَهدمُ ما كان قبلَها ، وأَنَّ الحَجَّ يَهدِمُ ما كانَ قبلَهُ ؟ » وما كان أَحَدٌ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَلا أَجَلّ في عَيني مِنْه ، ومَا كُنتُ أُطِيقُ أَن أَملأَ عَيني مِنه إِجلالاً له ، ولو سُئِلتُ أَن أَصِفَهُ ما أَطَقتُ ، لأَنِّي لم أَكن أَملأ عَيني مِنه ولو مُتُّ على تِلكَ الحَال لَرَجَوتُ أَن أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ . ثم وُلِّينَا أَشيَاءَ ما أَدري ما حَالي فِيهَا ؟ فَإِذا أَنا مُتُّ فلا تصحَبنِّي نَائِحَةٌ ولا نَارٌ ، فإذا دَفَنتموني ، فشُنُّوا عليَّ التُّرَابَ شَنًّا ، ثم أَقِيمُوا حولَ قَبري قَدْرَ ما تُنَحَرُ جَزورٌ ، وَيقْسَمُ لحْمُهَا ، حَتَّى أَسْتَأْنِس بكُمْ ، وأنظُرَ ما أُراجِعُ بِهِ رسُلَ ربي . رواه مسلم . قوله : « شُنُّوا » رُويَ بالشين المعجمة وبالمهملةِ ، أَي : صبُّوهُ قليلاً قَليلاً . واللَّه سبحانه أَعلم .
Terjemahan
Dari Ibnu Syihab Az-Zuhri radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Kami menjenguk 'Arbad bin Sariyah ketika dia sedang mendekati ajal. Dia menangis lama dan membalikkan tubuhnya ke arah dinding. Anaknya berkata: "Wahai ayahku! Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberimu kabar gembira? Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberimu kabar gembira?" Dia pun membalikkan wajahnya dan berkata: "Sesungguhnya bekal terbaik yang kami persiapkan adalah pengakuan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Sungguh aku telah melalui tiga fase. Aku ingat, tidak ada seorang pun yang lebih membenci Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dariku, dan tidak ada seorang pun yang lebih ingin membunuh beliau dariku. Seandainya aku mati pada saat itu, niscaya aku termasuk penghuni neraka. Ketika Allah menanamkan Islam dalam hatiku, aku menemui Nabi dan berkata: 'Ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu.' Beliau mengulurkan tangannya, tetapi aku menarik kembali tanganku. Beliau bertanya: 'Ada apa, 'Amr?' Aku menjawab: 'Aku ingin memberi syarat.' Beliau bertanya: 'Syarat apa yang kamu inginkan?' Aku menjawab: 'Agar dosa-dosaku diampuni.' Beliau bersabda: 'Tidakkah kamu tahu bahwa Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya? Hijrah karena Allah menghapus dosa-dosa sebelumnya? Dan haji yang mabrur menghapus dosa-dosa sebelumnya?' Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai dan aku hormati dalam pandanganku daripada beliau, dan aku tidak mampu memenuhi mataku dengan penghormatan kepada beliau. Jika kamu memintaku untuk menyebutkannya, aku tidak mampu, dan tidak ada yang lebih memenuhi mataku daripada beliau. Seandainya aku mati pada saat itu, aku benar-benar berharap akan termasuk penghuni surga. Kemudian kami diberi tanggung jawab atas banyak urusan yang kami tidak tahu bagaimana keadaan kami terkait urusan tersebut. Ketika aku mati, janganlah kalian menangis, berteriak, dan membawa api saat mengantarkan jenazahku. Ketika kalian menguburkanku, taburkanlah tanah di atasku, kemudian berdirilah di sekeliling kuburku selama kira-kira waktu menyembelih seekor unta dan membagi dagingnya, agar aku merasa dekat dengan kalian, dan aku akan melihat apakah aku akan me...

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa persiapan terbaik menghadapi kematian adalah memurnikan tauhid (لا إله إلا الله) dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad. Tangisan 'Amr bin Al-'Ash menunjukkan kesadaran akan beratnya hisab di akhirat, meski ia telah mendapat kabar gembira dari Rasulullah. Hikmahnya, seorang muslim harus selalu menggantungkan harapan pada rahmat Allah, tetapi juga merasa takut terhadap dosa-dosanya, serta senantiasa memperbaiki dan menguatkan keyakinan hingga akhir hayat.